https://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/issue/feedBorneo Journal of Medical Laboratory Technology2026-05-20T03:33:57+00:00Fera Sartikalp2m@umpalangkaraya.ac.idOpen Journal Systems<p style="text-align: justify;">Title: BJMLT: Borneo Journal of Medical Laboratory Technology<br />ISSN: 2622-6111 (online)<br />DOI: <br />Borneo Journal of Medical Laboratory Technology is a Scientific Journal managed by <a title="Department of Medical Laboratory Technology Faculty of Health Science" href="http://fik.umpalangkaraya.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">Department of Medical Laboratory Technology Faculty of Health Science</a> <a href="http://umpalangkaraya.ac.id" target="_blank" rel="noopener">Universitas Muhammadiyah Palangkaraya</a> and published twice a year (in October and April) by <a href="http://lp2m.umpalangkaraya.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">Institute for Researches and Community Services</a> <a href="http://umpalangkaraya.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">Universitas Muhammadiyah Palangkaraya</a>, contains articles of research and critical-analysis studies in Blood-transfusion Science, Clinical Chemistry, Hematology, Histopathology, Immunology, Microbiology, Parasitology, Toxicology, Food and drink Analysis, Molecular Biology, and other Medical Laboratory aspects.<br />ISSN: 2622-6111 (online)<br />DOI: </p>https://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12987Cover, Content, and Editorial Note from Borneo J Med Lab Tech Vol. 8 No. 2 April 20262026-05-20T03:22:16+00:00Chief Editor of Borneo J Med Lab Techsartikafera3@gmail.com<p>Assalamu’alaikum Wr. Wb.</p> <p>Alhamdulillahirabbil ‘alamin. After a long wait of almost 12 years from the first stand, the scientific journal of the Department of Analyst Health (Medical Laboratory Technology) Universitas Muhammadiyah Palangkaraya can be published. BJMLT is published every 6 months (2 issues/year) every October and April. This journal aims to publish high-quality articles dedicated to all aspects of the latest outstanding developments in the field but not limited to Blood transfusion, Clinical Chemistry, Hematology, Histopathology, Immunology, Microbiology, Parasitology, Toxicology, Food and Beverage Analysis, Molecular Biology, Medical Biology, and related fields that are of interest to medical laboratory technologies, such as epidemiology, health promotion, professional ethics, and laboratory management, It was first published online in October 2018 using Open Journal System (OJS) 3.1 platform with e-ISSN 2622-6111 by URL http://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt.</p> <p>This edition contains 14 articles on Hematology, Microbiology, Clinical Chemistry, and Epidemiology. Editorial boards are fully aware that there is still room for improvement in this edition; hence with all humility, they are willing to accept constructive suggestions and feedback for improvements to the publication for the next editions.</p> <p>The publication of BJMLT certainly participates in disseminating the results of research and review of science and technology development conducted by lecturers and researchers from UM Palangkaraya and other universities.</p> <p>The editorial board would like to thank the University, all editors and reviewers, and contributors of the scientific articles who have provided the repertoire in this issue. We hope that all parties, especially the contributors of the articles, could re-participate the publication's success in the next edition in Oktober 2026.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Chief Editor of Borneo J Med Lab Techhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/10768Studi Korelasi antara Konsumsi Kopi dengan Parameter Hematologis (Leukosit dan Eritrosit)2025-08-31T13:24:56+00:00Chalies Diah Pratiwidiahchalies@gmail.comAndyanita Hanif Hermawatidiahchalies@gmail.comYan Fu’ana diahchalies@gmail.comNala Fidarotul Ulyadiahchalies@gmail.com<p>Kopi adalah minuman yang sangat populer dan dikonsumsi secara luas di seluruh dunia, mengandung senyawa bioaktif seperti kafein, asam klorogenat, dan polifenol yang dapat memengaruhi respons imun dan inflamasi. Senyawa ini juga berpotensi memengaruhi fisiologi darah, seperti proses eritropoiesis, terutama karena tanin dalam kopi dapat menurunkan ketersediaan zat besi non-heme. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara kebiasaan konsumsi kopi dengan jumlah leukosit dan eritrosit. Dengan menggunakan analisis korelasi Pearson, data konsumsi kopi, yang dikelompokkan menjadi 3 gelas per hari dan lebih dari 3 gelas per hari, dianalisis terhadap jumlah leukosit dan eritrosit. Hasilnya menunjukkan korelasi yang sangat lemah dan tidak signifikan secara statistik antara konsumsi kopi dengan jumlah leukosit (r = 0,108, p = 0,632) dan eritrosit (r = 0,073, p = 0,745). Temuan ini konsisten dengan studi-studi sebelumnya yang melaporkan efek minimal atau tidak konsisten dari konsumsi kopi terhadap parameter hematologis. Oleh karena itu, hubungan antara konsumsi kopi dan parameter hematologis seperti jumlah leukosit dan eritrosit tidak terbukti signifikan dalam penelitian ini.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Chalies Diah Pratiwi, Andyanita Hanif Hermawati, Yan Fu’ana , Nala Fidarotul Ulyahttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/10441Perbandingan Hasil Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) dan Bakteri Tahan Asam (BTA) pada Pasien HIV Positif di Puskesmas Panarung, Palangkaraya2026-02-10T02:39:46+00:00Faradila Faradilafaradila1991@hotmail.comAhmad Ghiffaryahmad_ghiffari@um-palembang.ac.idNurul Qomariahfaradila1991@hotmail.comRisdiansyah Risdiansyahahmad_ghiffari@um-palembang.ac.idMuhammad Chairil Rizkyta Akbarahmad_ghiffari@um-palembang.ac.idRahmita Sarifaradila1991@hotmail.com<p><strong>Latar Belakang:</strong> Tuberkulosis (TB) tetap menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas global, terutama pada pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Diagnosis TB pada pasien HIV sering kali mengalami kendala akibat beban basil yang rendah dan gejala klinis yang tidak khas. WHO merekomendasikan penggunaan Tes Cepat Molekuler (TCM) seperti GeneXpert, namun keterbatasan distribusinya menyebabkan mikroskopis Bakteri Tahan Asam (BTA) masih banyak digunakan di layanan primer.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Menilai tingkat akurasi dan kesesuaian antara pemeriksaan TCM dan BTA dalam mendeteksi TB pada pasien HIV positif.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain potong lintang yang dilakukan pada 38 pasien HIV dengan gejala TB di Puskesmas Panarung, Palangkaraya, antara Desember 2024 hingga Juli 2025. Semua responden menjalani pemeriksaan TCM dan BTA secara bersamaan. Analisis data dilakukan menggunakan uji McNemar dan perhitungan nilai Kappa Cohen untuk menilai kesesuaian antar metode diagnosis.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Seluruh kasus TB (100%) terdeteksi oleh TCM, sedangkan BTA hanya mendeteksi 35 dari 38 kasus (sensitivitas 92,1%; spesifisitas 100%). Nilai Kappa Cohen sebesar 0,78 menunjukkan kesesuaian substansial antara kedua metode. Namun demikian, TCM menunjukkan performa diagnostik yang lebih unggul, khususnya pada pasien dengan imunosupresi berat.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> TCM lebih sensitif dibandingkan BTA dalam mendeteksi TB pada pasien HIV dan sebaiknya dijadikan metode utama dalam skrining TB pada kelompok risiko tinggi. Peningkatan akses terhadap TCM di layanan primer sangat penting dalam mendukung eliminasi TB tahun 2030.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Faradila Faradila, Ahmad Ghiffary, Nurul Qomariah, Risdiansyah Risdiansyah, Muhammad Chairil Rizkyta Akbar, Rahmita Sarihttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12150Hubungan Nilai Immature Platelet Fraction (IPF) Dengan Kejadian Trombositopenia Pada Pasien Demam Berdarah Dengue2026-01-19T16:24:46+00:00Ichwan Baihakiichwan.baihaki@upnvj.ac.idGita Apriliciagita.aprilicia@upnvj.ac.id<p style="font-weight: 400;">Demam berdarah dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan utama di negara tropis dengan manifestasi khas trombositopenia, namun mekanisme dan respon sumsum tulang terhadap penurunan trombosit belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam praktik klinis. <em>Immature Platelet Fraction </em>(IPF) menggambarkan fraksi trombosit muda di sirkulasi dan berpotensi menjadi penanda tidak langsung trombopoiesis pada trombositopenia terkait infeksi dengue. Tujuan penelitian ini enilai hubungan nilai IPF dengan kejadian trombositopenia pada pasien DBD dengan antigen NS1 positif serta membandingkan nilai IPF pasien DBD dan non DBD. Studi deskriptif analitik menggunakan data sekunder laboratorium dari 14 pasien DBD dengan trombositopenia dan 14 subjek sehat sebagai kontrol di Rumah Sakit Yarsi Jakarta, periode November 2024-Maret 2025; pemeriksaan DENV dilakukan dengan uji cepat antigen NS1 dan IgM/IgG, sedangkan IPF diukur menggunakan Sysmex XN‑1000, kemudian dianalisis dengan uji T independen dan uji korelasi Pearson. Hasil rerata IPF pasien DBD adalah 8,5% (SD 2,34) dan pasien non DBD 2,3% (SD 1,36) dengan perbedaan bermakna (p<0,05), serta 93% pasien DBD dengan trombositopenia menunjukkan IPF tinggi. Terdapat korelasi negatif yang kuat dan signifikan antara jumlah trombosit dan IPF (p<0,05; r = -0,79), yang menunjukkan bahwa penurunan trombosit berkaitan dengan peningkatan IPF. Nilai IPF meningkat secara bermakna pada pasien DBD dengan trombositopenia dan berkorelasi kuat dengan penurunan jumlah trombosit, sehingga IPF berpotensi digunakan sebagai indikator laboratorium untuk memantau trombositopenia dan respon trombopoiesis pada DBD.</p>2026-04-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Ichwan Baihaki, Gita Apriliciahttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12280Prevalensi Kelainan Refraksi pada Anak SD Inpres Tangkala 2 Makassar2026-02-10T07:41:29+00:00Nur Syamsih Dewannursyamsihdewan@gmail.comMarlyanti Nur Rahmahmarlyantinurrahmah.akib@umi.ac.idMuh Alfian Jafarnursyamsihdewan@gmail.comSri Irmandha Knursyamsihdewan@gmail.comHanna Aulia Namirahnursyamsihdewan@gmail.com<p>Gangguan refraksi merupakan penyebab utama gangguan penglihatan pada anak yang dapat dicegah dan ditangani, namun masih banyak yang tidak terdeteksi. Di Sulawesi Selatan, angka kebutaan akibat gangguan refraksi tergolong tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi kelainan refraksi pada anak SD Inpres Tangkala 2 Makassar, dan untk mengetahui jenis-jenis kelainan refraksi pada anak SD Inpres Tangkala 2 Makassar. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan desain peneltian yang digunakan adalah studi cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kelainan refraksi pada siswa SD Inpres Tangkala 2 Makassar sebesar 27,8%, sedangkan 72,2% siswa memiliki refraksi normal. Jenis kelainan refraksi yang paling banyak ditemukan adalah astigmatisme (64%), diikuti miopia (36%), dan tidak ditemukan kasus hipermetropia. Maka dapat disimpulkan bahwa kelainan refraksi masih ditemukan pada sebagian siswa, dengan astigmatisme sebagai jenis yang paling dominan, sehingga diperlukan deteksi dini untuk mencegah gangguan penglihatan lebih lanjut.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Nur Syamsih Dewan, Marlyanti Nur Rahmah, Muh Alfian Jafar, Sri Irmandha K, Hanna Aulia Namirahhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/11865Analisis Pengaruh Pemberian Gel Lidah Buaya terhadap Penyembuhan Luka pada Mencit (Mus musculus) yang Diinduksi Aloksan2025-12-19T14:19:33+00:00Shania Fadila Sungesaniafadila98@gmail.comReeny Purnamasari Juhamran raenypurnamasari.juhamran@umi.ac.idDwi Anggitadwianggita@umi.ac.idDarariani Iskandar darariani.iskandar@umi.ac.idBerry Erida Hasbi berryerida.hasbi@umi.ac.id<p>Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan metabolik dengan hiperglikemia yang dapat menghambat proses penyembuhan luka. Luka sayat pada penderita DM berisiko mengalami penyembuhan yang lambat dan infeksi. Lidah buaya (Aloe vera) memiliki sifat antiinflamasi, antibakteri, analgesik, dan hipoglikemik serta mengandung glukomanan yang dapat merangsang proliferasi fibroblas dan produksi kolagen. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lidah buaya efektif mempercepat penyembuhan luka pada kondisi diabetes melalui peningkatan regenerasi jaringan dan penurunan stres oksidatif. Oleh karena itu, lidah buaya berpotensi sebagai terapi alternatif dalam penyembuhan luka pada penderita DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian gel lidah buaya terhadap penyembuhan luka yang di induksi aloksan (1 dan 2), untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian gel lidah buaya terhadap penyembuhan luka yang di induksi aloksan (3 dan 4), untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian gel lidah buaya terhadap penyembuhan luka yang di induksi aloksan (1 dan 3), untuk mengetahui perbedaan penyembuhan luka antara kelompok pemberian gel lidah buaya dengan tidak pada mencit yang di induksi aloksan, dan untuk mengetahui perbedaan penyembuhan luka antara kelompok pemberian gel lidah buaya dengan tidak pada mencit yang di induksi aloksan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental dengan desain penelitian Posttest Control Group Design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian gel lidah buaya menunjukkan kecenderungan mempercepat penyembuhan luka pada fase awal, baik pada luka yang diinduksi aloksan maupun luka sayat pada mencit yang tidak diinduksi aloksan. Kelompok yang diberi gel lidah buaya memiliki ukuran luka yang lebih kecil dibandingkan kelompok tanpa gel, dengan penyembuhan paling lambat ditemukan pada kelompok luka yang diinduksi aloksan tanpa perlakuan. Perbandingan antar kelompok (1–2, 3–4, 1–3) menunjukkan adanya perbaikan klinis pada kelompok perlakuan, namun uji Mann–Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik (p > 0,05). Pada luka sayat, efek gel lidah buaya kurang menonjol pada fase akhir penyembuhan karena regenerasi jaringan yang berlangsung cepat secara alami. Dapat disimpulkan bahwa gel lidah buaya berpotensi mempercepat proses penyembuhan luka, terutama pada fase awal luka pada mencit yang diinduksi aloksan, namun pengaruh tersebut belum menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik dibandingkan tanpa pemberian gel.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Shania Fadila Sunge, Reeny Purnamasari Juhamran , Dwi Anggita, Darariani Iskandar , Berry Erida Hasbi https://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12355Analisis Resistensi Antibiotik di RSUP Wahidin Sudirohusodo Tahun 2023-2024 2026-02-28T04:50:20+00:00Anandhita Anandhitaditaaalfiani@gmail.comAmrizal Muchtaramrizal.muchtar@umi.ac.idMohammad Reza Zainalamrizal.muchtar@umi.ac.idSri Wahyuni Gayatriamrizal.muchtar@umi.ac.idDarariani Iskandar Rezaamrizal.muchtar@umi.ac.id<p>Resistensi antibiotik saat ini menjadi ancaman serius global terhadap efektivitas pengobatan infeksi bakteri, dengan dampak berupa kegagalan pengobatan, kebutuhan obat alternatif yang lebih mahal dan aman, peningkatan angka kesakitan dan kematian, perpanjangan rawat inap, serta biaya layanan kesehatan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran resistensi antibiotik berdasarkan hasil uji sensitivitas (kategori Sensitif, Intermediate, dan Resisten) dari RSUP Wahidin Sudirohusodo pada tahun 2023–2024, serta menganalisis hubungan antara jenis bakteri dan pola resistensinya. Penelitian kuantitatif deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional ini menggunakan data sekunder hasil kultur dan uji sensitivitas antibiotik; sampel dipilih dengan total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan distribusi bakteri dan pola resistensi yang bervariasi antar rumah sakit; bakteri Gram negatif memperlihatkan resistensi terutama terhadap antibiotik beta-laktam tertentu dan fluorokuinolon, dengan sensitivitas relatif pada karbapenem dan aminoglikosida. Bakteri Gram positif menunjukkan sensitivitas yang baik terhadap vancomycin dan linezolid, namun resistensi terhadap penicillin, makrolida, dan tetrasiklin masih ditemukan pada sebagian isolat. Pada <em>Mycobacterium tuberculosis</em>, sebagian besar isolat sensitif terhadap rifampicin, tetapi terdapat pula respons intermediate dan resisten. Secara keseluruhan, pola resistensi di rumah sakit bersifat heterogen dan spesifik terhadap jenis bakteri, sehingga penggunaan data antibiogram lokal penting sebagai dasar pemilihan terapi antibiotik yang rasional.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Anandhita Anandhita, Amrizal Muchtar, Mohammad Reza Zainal, Sri Wahyuni Gayatri, Darariani Iskandar Rezahttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12388Karakteristik Pasien Systemic Lupus Erythematosus di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar 2020–20232026-02-27T02:37:17+00:00Muh. Arya Anugrahnugrahamuharya@gmail.comHermiaty Nasaruddinhermiaty.nasaruddin@umi.ac.idSri Wahyuni Gayatrihermiaty.nasaruddin@umi.ac.idDian Amelia Abdihermiaty.nasaruddin@umi.ac.idLisa Yunitahermiaty.nasaruddin@umi.ac.id<p><em>Systemic Lupus Erythematosus</em> (SLE) merupakan penyakit autoimun kronis dengan manifestasi klinis dan komplikasi yang beragam, sehingga pemetaan karakteristik pasien diperlukan untuk mendukung deteksi dini dan penatalaksanaan. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik pasien SLE di Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI Makassar periode 2020–2023. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan data sekunder rekam medis dan teknik total sampling. Sampel penelitian berjumlah 18 pasien yang memenuhi kriteria. Variabel yang dianalisis meliputi jenis kelamin, usia, manifestasi klinis, komplikasi, riwayat terapi, dan riwayat keluarga SLE. Hasil penelitian menunjukkan seluruh pasien berjenis kelamin perempuan (100,00%); kelompok usia terbanyak >40 tahun (66,66%); manifestasi klinis tersering adalah muskuloskeletal (50,0%); komplikasi tersering adalah nefritis lupus (27,77%); terapi yang paling banyak digunakan adalah kombinasi imunosupresan dan kortikosteroid (55,56%); dan mayoritas pasien tidak memiliki riwayat keluarga SLE (66,66%). Disimpulkan bahwa pasien SLE pada periode penelitian didominasi perempuan usia >40 tahun dengan manifestasi muskuloskeletal, komplikasi nefritis lupus, serta penggunaan terapi kombinasi imunosupresan-kortikosteroid.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Muh. Arya Anugrah, Hermiaty Nasaruddin, Sri Wahyuni Gayatri, Dian Amelia Abdi, Lisa Yunitahttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12426Deteksi Cemaran Bakteri dan Logam Berat pada Liquid Foundation2026-03-03T23:18:43+00:00Tiara Dini Harlitadosentiara18@gmail.comGanea Qorry Ainaganea.aina@gmail.comSresta Azahrasresta.azahra@gmail.com<p>Penggunaan dan penyimpanan kosmetik yang kurang tepat dapat menyebabkan kosmetik rentan terkontaminasi bakteri. Proses pengolahan kosmetik juga dapat menyebabkan terjadinya cemaran logam berat. Paparan logam berat dapat mengganggu kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi cemaran bakteri dan logam berat pada <em>liquid foundation</em>. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Sampel diambil secara <em>purposive samping</em>, berupa 10 merk <em>liquid foundation</em> yang telah digunakan selama 3 bulan. Pengujian cemaran bakteri menggunakan metode Angka Lempeng Total (ALT) dan cemaran logam berat timbal dan kadmium dianalisis menggunakan spektrofotometri serapan atom. Hasil uji ALT menunjukkan bahwa sembilan sampel memenuhi standar <10<sup>3 </sup>koloni/gr dan satu sampel (F2) melebihi standar, yaitu 2,96x10<sup>4 </sup>koloni/gr, dan terdapat cemaran <em>Pseudomonas aeruginosa</em>. Hasil uji cemaran logam berat menunjukkan kandungan timbal pada sembilan sampel dalam batas aman < 20 mg/kg dan satu sampel (F2) melebihi standar, yaitu 31,37 mg/kg. Kandungan kadmium pada seluruh sampel masih dalam batas aman, yaitu <5 mg/kg. Dari hasil tersebut, disimpulkan bahwa 9 dari 10 sampel diketahui memenuhi standar BPOM No. 12 Tahun 2019 sehingga layak digunakan.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Tiara Dini Harlita, Ganea Qorry Aina, Sresta Azahrahttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12431Studi In Vivo: Efektivitas Ekstrak Keji Beling (Strobilanthes crispus) terhadap Penyembuhan Luka Mencit Diabetes 2026-03-04T05:13:40+00:00Ganea Qorry Ainaganea.aina@gmail.comHarlita Tiara Dinidosentiara18@gmail.comGladys Thereceliasandyakerdganea.aina@gmail.com<p>Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu gangguan yang biasanya ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa darah (hiperglikemia). Salah satu komplikasi yang ditimbulkan oleh DM adalah luka diabetik. Penggunaan obat tradisional saat ini banyak direkomendasikan karena efek sampingnya yang relatif kecil dan hasilnya yang cukup efektif. Keji beling umumnya digunakan sebagai obat tradisional untuk penyakit antidiabetes, sebagai diuretik, dan juga dapat digunakan sebagai antihiperglikemik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rata-rata diameter luka, pengaruh pemberian ekstrak daun beling pada konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%, dan untuk mengidentifikasi konsentrasi mana yang paling efektif dalam penyembuhan luka diabetik pada tikus. Jenis penelitian yang digunakan adalah Eksperimen Sejati dengan Alokasi Acak, dengan 6 tikus untuk setiap konsentrasi. Analisis data yang digunakan adalah uji statistik One Way ANOVA diikuti dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata diameter luka pada konsentrasi 25%, 50%, dan 75% lebih besar dibandingkan dengan 100%. Semua ekstrak pada konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100% berpengaruh terhadap proses penyembuhan luka pada tikus diabetes, dengan nilai signifikan sebesar 0,015 < 0,05. Berdasarkan uji DMRT, ditemukan bahwa konsentrasi 100% paling efektif dalam proses penyembuhan luka diabetik. Pemberian ekstrak keji beling 100% memberikan hasil terbaik, dengan persentase penutupan luka mencapai 44,81%.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Ganea Qorry Aina, Harlita Tiara Dini, Gladys Thereceliasandyakerdhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12989Review Literature: an Update Faktor Risiko dan Skrining Awal Retinopati Diabetik2026-05-20T03:30:39+00:00Andi Asramandiasram151@gmail.comPrema Hapsari Hidayati prema.hapsari@umi.ac.idZulfikri Khalil Novriansyahzulfikrikhalil.novriansyah@umi.ac.idHasan Hasanhasanumr65@gmail.comMarlyanti Nur Rahmahmariyantinurrahmah.akhib@umi.ac.id<p>Retinopati diabetik (RD) merupakan komplikasi mikrovaskular serius dari diabetes melitus (DM) yang dapat menyebabkan kebutaan bila tidak dideteksi secara dini. Prevalensi RD di Indonesia cukup tinggi, mencapai 43,1% pada pasien DM tipe 2, dengan 26,1% di antaranya mengancam penglihatan. Penelitian ini menggunakan metode literature review terhadap 10 artikel ilmiah yang relevan, dipublikasikan antara 2020–2025, untuk mengidentifikasi faktor risiko utama RD dan menekankan pentingnya skrining awal. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor risiko paling konsisten adalah durasi DM, kadar HbA1c tinggi, hipertensi, serta jenis kelamin laki-laki. Penurunan HbA1c sebesar 1% dapat menurunkan risiko RD hingga 40%, sedangkan penurunan tekanan darah 10 mmHg menurunkan risiko sebesar 35%. Dislipidemia juga berperan, meskipun hasil penelitian terkait masih bervariasi. Skrining awal RD terbukti efektif mencegah kebutaan melalui deteksi dini menggunakan fotografi fundus, Optical Coherence Tomography (OCT), dan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI). Integrasi skrining ke layanan primer dan pemanfaatan telemedicine direkomendasikan untuk menjangkau daerah dengan akses terbatas. Kesimpulannya, pengendalian faktor risiko dan skrining rutin merupakan strategi utama dalam pencegahan RD dan pengurangan beban kesehatan masyarakat.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Andi Asram, Prema Hapsari Hidayati , Zulfikri Khalil Novriansyah, Hasan Hasan, Marlyanti Nur Rahmahhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12233Efek Pemberian Ekstrak Rebusan Teh Hijau (Camellia sinensis) terhadap Profil Lipid pada Mencit (Mus musculus L.)2026-02-28T05:18:47+00:00Muhammad Rifky Adani Dahlanmuhammad.rifky76543@gmail.comIda Royaniida.royani@umi.ac.idAbdi Dwiyanto Putra Samosir putraabdidwiyanto@gmail.comAsrini Safitriasrini.safitri@umi.ac.idPratiwi Nasir Hamzah pratiwinasir.hamzah@umi.ac.id<p>Dislipidemia merupakan faktor utama terjadinya aterosklerosis dan penyakit kardiovaskular, yang menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Terapi statin efektif menurunkan lipid, namun memiliki efek samping seperti myalgia serta gangguan fungsi hati dan ginjal. Oleh karena itu, diperlukan alternatif terapi yang lebih aman. Teh hijau (Camellia sinensis) mengandung senyawa antioksidan yang berpotensi memperbaiki profil lipid. Namun, penelitian mengenai efek rebusan teh hijau varietas lokal Sulawesi terhadap profil lipid masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kadar kolesterol total pada darah mencit sebelum dan setelah pemberian ekstrak rebusan teh hijau (<em>Camellia sinensis</em>), untuk mengukur kadar trigliserida pada darah mencit sebelum dan setelah pemberian ekstrak rebusan teh hijau (<em>Camellia sinensis</em>), untuk mengukur kadar HDL dan LDL pada darah mencit setelah pemberian ekstrak rebusan teh hijau (<em>Camellia sinensis</em>), dan untuk menilai efek pemberian ekstrak rebusan teh hijau (<em>Camellia sinensis</em>) terhadap penurunan kolesterol total, trigliserida dan LDL serta peningkatan kadar HDL pada darah mencit perlakuan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental murni (true experimental). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak rebusan teh hijau (<em>Camellia sinensis</em>) pada mencit dengan diet tinggi lemak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap profil lipid. Dibandingkan kelompok kontrol, kelompok perlakuan mengalami penurunan bermakna kadar trigliserida dan LDL, sementara kadar kolesterol total dan HDL tetap stabil. Analisis statistik menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok kontrol dan perlakuan pada seluruh parameter lipid, yang mengindikasikan efek hipolipidemik dari ekstrak rebusan teh hijau. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak rebusan teh hijau (<em>Camellia sinensis</em>) berpotensi memperbaiki profil lipid dengan menurunkan kadar trigliserida dan LDL serta mempertahankan kadar kolesterol total dan HDL dalam batas normal pada mencit dengan diet tinggi lemak. Efek ini diduga berkaitan dengan aktivitas antioksidan senyawa katekin dan polifenol, sehingga teh hijau berpotensi sebagai terapi alternatif pendukung dalam pencegahan dislipidemia.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Muhammad Rifky Adani Dahlan, Ida Royani, Abdi Dwiyanto Putra Samosir , Asrini Safitri, Pratiwi Nasir Hamzah https://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12352Uji Aktivitas Antikolesterol Ekstrak Jamu Pahitan terhadap Mencit (Mus musculus) Hiperkolesterol2026-02-24T06:56:04+00:00Charisa Maylani Putri Azharicharisamputri11@gmail.comGanea Qorry Ainaganea.aina@gmail.comNursalinda Kusumawationlynursalinda@gmail.comSresta Azahrasresta.azahra@gmail.com<p>Kolesterol tinggi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Kondisi ini memicu terjadinya aterosklerosis, yaitu penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan plak lemak yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung. Salah satu ramuan tradisional yang digunakan secara turun-temurun untuk membantu mengatasi hiperkolesterolemia adalah jamu pahitan, yang terdiri atas sambiloto, brotowali, meniran, kumis kucing, daun salam, dan temulawak. Tanaman-tanaman tersebut mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, alkaloid, tanin, dan kurkumin yang berpotensi menurunkan kadar kolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antikolesterol ekstrak jamu pahitan terhadap mencit jantan (Mus musculus) yang diinduksi hiperkolesterolemia. Desain penelitian yang digunakan adalah True Experimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Sebanyak 25 ekor mencit jantan dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kontrol negatif, kontrol positif (simvastatin), serta tiga kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak jamu pahitan masing-masing 200, 400, dan 600 mg/kg BB. Kadar kolesterol diukur pada hari ke-0, ke-5, ke-10, dan ke-15 menggunakan alat Point of Care Testing (Fora 6 Plus).</p> <p>Hasil menunjukkan bahwa dosis 200 mg/kg BB memberikan penurunan kadar kolesterol paling tinggi, yaitu sebesar 31,13%. Uji statistik Kruskal-Wallis yang dilanjutkan dengan Mann-Whitney menggunakan koreksi Bonferroni menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kontrol negatif dengan seluruh kelompok perlakuan (p < 0,05). Dengan demikian, ekstrak jamu pahitan terbukti memiliki aktivitas antikolesterol dengan dosis optimal pada 200 mg/kg BB.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Charisa Maylani Putri Azhari, Ganea Qorry Aina, Nursalinda Kusumawati, Sresta Azahrahttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12250Hubungan Asuhan Antenatal terhadap Kejadian Stunting2026-02-05T05:16:02+00:00Ahda Triani Ifuahdatriani311@gmail.comHermiaty Nasaruddin hermiaty.nasaruddin@umi.ac.idMuhammad Wirawan Harahapwirawan.harahap@umi.ac.idMasita Fujiko M.Said ahdatriani311@gmail.comAbdi Dwiyanto Putra Samosirahdatriani311@gmail.com<p>Stunting masih menjadi masalah gizi utama pada balita di Indonesia, dengan prevalensi yang cenderung meningkat di beberapa wilayah, termasuk Sulawesi Selatan. kondisi ini berdampak pada pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta kesehatan jangka panjang anak. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap status gizi anak adalah kualitas asuhan antenatal. Pelayanan antenatal yang tidak sesuai standar terbukti meningkatkan risiko terjadinya stunting. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keteraturan asuhan antenatal yang dilakukan ibu selama kehamilan, untuk mengetahui kejadian stunting pada balita, serta untuk menganalisis hubungan antara asuhan antenatal dengan kejadian stunting. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian menunjukkan bahwa hanya 27,5% ibu yang melakukan asuhan antenatal secara teratur sesuai standar. Kejadian stunting pada balita masih tinggi yaitu sebesar 62,5%. Terdapat hubungan signifikan antara keteraturan asuhan antenatal dengan kejadian stunting (p = 0,000)), di mana ketidakteraturan kunjungan meningkatkan risiko gangguan gizi tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa keteraturan asuhan antenatal berperan penting dalam mencegah stunting. Ibu yang tidak melakukan kunjungan antenatal secara teratur memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan anak dengan gangguan gizi, sehingga pemenuhan pelayanan antenatal sesuai standar perlu diperkuat.</p>2026-04-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Ahda Triani Ifu, Hermiaty Nasaruddin , Muhammad Wirawan Harahap, Masita Fujiko M.Said , Abdi Dwiyanto Putra Samosirhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12232Uji Efektivitas Infusa Daun Kelor (Moringa oleifera) terhadap Kadar Glukosa Darah pada Tikus Putih (Rattus novergicus) dengan Obesitas 2026-02-28T05:20:50+00:00Cecy Anggriani H. KCecyanggriani@gmail.comIrmayanti Irmayantiirmayanti.irmayanti@umi.ac.idRatih Natasha Maharaniratih.natasha@umi.ac.idIrna Diyana Kartika Kamaluddin irnadiyanakartika.kamaluddin@umi.acSuci Noviyanah Ansary suci.noviyanah@umi.ac.id<p>Obesitas berhubungan erat dengan hiperglikemia dan peningkatan risiko diabetes melitus, yang prevalensinya terus meningkat di Indonesia. Terapi farmakologis seperti metformin efektif menurunkan glukosa darah, namun penggunaan jangka panjang memiliki keterbatasan. Daun kelor (<em>Moringa oleifera</em>) mengandung senyawa bioaktif dan antioksidan yang berpotensi sebagai terapi nonfarmakologis penurun glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas infusa daun kelor (<em>Moringa oleifera</em>) terhadap penurunan kadar glukosa darah pada tikus putih (<em>Rattus novergicus</em>) dengan obesitas. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif metode eksperimental laboratories dengan menggunakan desain penelitian pre and post test control group design dengan menggunakan tikus putih (<em>Rattus novergicus</em>) yang obesitas sebagai hewan coba untuk mengetahui efek dari pemberian infusa daun kelor (<em>Moringa oleifera</em>) terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus putih yang obesitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian infusa daun kelor (<em>Moringa oleifera</em>) pada tikus putih (<em>Rattus norvegicus</em>) obesitas menyebabkan penurunan kadar glukosa darah secara signifikan dibandingkan kelompok tanpa perlakuan. Efektivitas penurunan glukosa darah meningkat seiring dengan peningkatan dosis, dengan dosis 800 mg/KgBB menunjukkan penurunan kadar glukosa darah paling besar dan sebanding dengan pemberian metformin. Dapat disimpulkan bahwa infusa daun kelor (<em>Moringa oleifera</em>) efektif menurunkan kadar glukosa darah pada tikus putih obesitas, dengan dosis 800 mg/KgBB sebagai dosis paling optimal.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Cecy Anggriani H. K, Irmayanti Irmayanti, Ratih Natasha Maharani, Irna Diyana Kartika Kamaluddin , Suci Noviyanah Ansary https://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12251Hubungan Tekanan Darah terhadap Kejadian Retinopati Diabetik pada Pasien di Klinik Mata JEC Orbita Makassar2026-02-05T06:06:29+00:00Nurfadilla Nurfadillanurfadillahamid26@gmail.comSri Wahyuni Gayatri sriwahyuni.gayatri@umi.ac.idNur Aulianurfadillahamid26@gmail.comMarlyanti Nur Rahmahnurfadillahamid26@gmail.comRatih Natasha Maharaninurfadillahamid26@gmail.com<p>Retinopati diabetik merupakan komplikasi diabetes melitus yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan. Hipertensi yang sering menyertai diabetes diduga berperan dalam kerusakan pembuluh darah retina. Meskipun beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara tekanan darah dan kejadian retinopati diabetik, hasil yang diperoleh masih bervariasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hubungan antara tekanan darah terhadap kejadian retinopati diabetik pada pasien di Klinik Mata JEC Orbita Makassar. Jenis penelitian ini merupakan penelitian Analitik dengan menggunakan desain cross sectional berupa data rekam medis yang didapatkan dari Klinik Mata JEC Orbita Makassar. Hasil analisis statistik menggunakan uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara tekanan darah dan kejadian retinopati diabetik pada pasien di Klinik Mata JEC Orbita Makassar (p = 0,023). Peningkatan tekanan darah berhubungan dengan meningkatnya tingkat keparahan retinopati diabetik, di mana pasien dengan hipertensi derajat I–III lebih banyak mengalami retinopati diabetik proliferatif dibandingkan pasien dengan tekanan darah normal atau optimal. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tekanan darah dan kejadian retinopati diabetik, di mana tekanan darah yang lebih tinggi berkaitan dengan tingkat keparahan retinopati diabetik yang lebih berat pada pasien di Klinik Mata JEC Orbita Makassar.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Nurfadilla Nurfadilla, Sri Wahyuni Gayatri , Nur Aulia, Marlyanti Nur Rahmah, Ratih Natasha Maharanihttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12030Uji Diagnostik Polymerase Chain Reaction dibandingkan dengan Pewarnaan Eosin dalam Mendeteksi Infeksi Soil-Transmitted Helminths pada Siswa Sekolah Dasar di Palembang2026-01-07T07:31:52+00:00Ahmad Ghiffaridokter.ghi@gmail.comMuhammad Faiz Ridhafaizdha44@gmail.comRatih Pratiwiahmad_ghiffari@um-palembang.ac.idMiranti Dwi Hartantiahmad_ghiffari@um-palembang.ac.idFaradila Faradilafaradila1991@hotmail.com<p><em>Soil-transmitted helminthiasis</em> masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama pada anak sekolah dasar di wilayah dengan sanitasi yang kurang memadai. Pemeriksaan mikroskopis feses masih banyak digunakan karena sederhana dan murah, namun memiliki keterbatasan pada infeksi dengan intensitas rendah. Metode molekuler seperti <em>Polymerase Chain Reaction</em> (PCR) dikembangkan untuk meningkatkan deteksi, tetapi kinerjanya pada setting lokal masih perlu dievaluasi. Penelitian ini merupakan uji diagnostik dengan desain cross-sectional yang melibatkan 30 sampel tinja siswa sekolah dasar. Pemeriksaan dilakukan menggunakan pewarnaan langsung dengan eosin (PLDE) sebagai metode rujukan dan PCR. Analisis dilakukan menggunakan tabel 2×2 untuk menentukan sensitivitas, spesifisitas, nilai prediktif positif (PPV), nilai prediktif negatif (NPV), dan akurasi. DSE menunjukkan 8 dari 30 sampel (26,7%) positif, terdiri dari <em>Ascaris lumbricoides</em> (7 sampel) dan <em>Trichuris trichiura</em> (1 sampel). PCR mendeteksi DNA <em>Ascaris lumbricoides</em> pada 11 sampel (36,7%), tanpa deteksi <em>Trichuris trichiura </em>maupun<em> hookworm</em>. Dibandingkan metode rujukan, PCR memiliki sensitivitas 62,5%, spesifisitas 72,72%, PPV 45,45%, NPV 84,21%, dan akurasi 70%. PCR menunjukkan kinerja diagnostik sedang dan berpotensi sebagai metode pelengkap, terutama untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi. Namun, PCR belum mampu mendeteksi seluruh spesies STH yang teridentifikasi secara mikroskopis. Penggunaannya perlu mempertimbangkan kesiapan laboratorium, kualitas sampel, dan kemampuan deteksi spesies. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan sampel lebih besar, target molekuler lebih luas, <em>multiplex</em> PCR, dan metode rujukan yang lebih komprehensif.</p>2026-04-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Ahmad Ghiffari, Muhammad Faiz Ridha, Ratih Pratiwi, Miranti Dwi Hartanti, Faradila Faradilahttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/10726Pemeriksaan Kadar Hemoglobin pada Penderita Pediculosis di Pondok Pesantren Raudlotul Musthofa Rejotangan Tulungagung 2025-09-17T02:20:14+00:00Imelda Putri Kusharyatiimeldaputri366@gmail.comQurrotu A’yunin imeldaputri366@gmail.comLathifah Lathifahimeldaputri366@gmail.comEka Puspitasariimeldaputri366@gmail.comYan Fu’anaimeldaputri366@gmail.com<p>Pediculosis kapitis merupakan infestasi ektoparasit yang banyak ditemukan di lingkungan padat seperti pondok pesantren. Infestasi berat dapat menimbulkan gatal, gangguan tidur, dan kehilangan darah kronis yang berpotensi menyebabkan anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar hemoglobin pada santriwati penderita pediculosis di Pondok Pesantren Raudlotul Musthofa Rejotangan Tulungagung. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 40 santriwati penderita pediculosis. Pemeriksaan kadar hemoglobin dilakukan menggunakan metode Point of Care Testing (POCT) dengan alat Easy Touch dari darah kapiler. Hasil pemeriksaan menunjukkan 25 responden (62,5%) memiliki kadar hemoglobin normal, 7 responden (17,5%) rendah (anemia), dan 8 responden (20%) tinggi. Infeksi pediculosis dapat memengaruhi kadar hemoglobin pada santriwati. Meskipun sebagian besar responden memiliki kadar hemoglobin normal, masih terdapat 17,5% yang mengalami anemia. Pemeriksaan hemoglobin rutin, edukasi gizi, suplementasi zat besi, serta upaya pencegahan pediculosis penting dilakukan di pesantren untuk menjaga kesehatan santriwati.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Imelda Putri Kusharyati, Qurrotu A’yunin , Lathifah Lathifah, Eka Puspitasari, Yan Fu’anahttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/10958Gambaran Pengelolaan Limbah Laboratorium Patologi Anatomi di RSUD Panembahan Senopati Bantul 2025-09-22T13:25:05+00:00Anis Putri Fauziahanisputrifauziah9@gmail.comYeni Rahmawatianisaputri412@gmail.comYuyun Nailufaranisputrifauziah9@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>Laboratorium patologi anatomi menghasilkan limbah medis padat dan cair dapat membahayakan kesehatan manusia serta mencemari lingkungan apabila tidak dikelola secara tepat. Pengelolaan limbah menjadi aspek penting dalam sistem pelayanan kesehatan yang aman dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pengelolaan limbah laboratorium patologi anatomi di Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul dan membandingkannya dengan standar nasional berdasarkan Permenkes Nomor 18 Tahun 2020. Metode penelitian yang digunakan yakni deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasional. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara kepada lima responden yang terdiri dari petugas Ahli Teknologi Laboratorium Medis, petugas kebersihan dan pengawas, serta observasi langsung pada lokasi laboratorium. Data dianalisis secara manual menggunakan metode deskriptif dan dibandingkan dengan ketentuan regulasi nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan pengurangan dan pemilahan, pengangkutan internal serta penyimpanan sementara limbah telah dilakukan sesuai ketentuan. Pengolahan internal belum dilaksanakan secara optimal sesuai dengan metode non-insenerasi yang diarahkan dikarenakan langsung dikirim ke pihak ketiga. Secara keseluruhan, limbah laboratorium ini dikelola dengan baik. Namun, pengolahan internal masih perlu ditingkatkan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa sebagian besar aspek pengelolaan limbah telah sesuai regulasi, tetapi pengolahan internal perlu ditingkatkan agar sistem pengolahan limbah lebih komprehensif.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Anis Putri Fauziah, Yeni Rahmawati, Yuyun Nailufarhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/11084Gambaran Karboksihemoglobin (COHb) Pada Pengrajin Genteng di Desa Urek-Urek Kecamatan Gondang Legi Kabupaten Malang2025-10-07T06:58:08+00:00Nurul Hidhayahnurulhidhayah281997@gmail.comPrevita Zeizar Rahmawatiprevita.zr@stikesmaharani.ac.idErni Yohani Mahtutiprevita.zr@stikesmaharani.ac.id<p>Karboksihemoglobin (COHb) merupakan gas beracun yang terbentuk dari proses pembakaran yang tidak sempurna. Pengrajin Genteng merupakan seseorang yang berada di lingkungan industri yang melakukan proses pembuatan sampai proses pembakaran hingga menjadi genteng sehingga berpotensi terpaparnya CO yang berikatan dengan hemoglobin yang akhirnya menjadi COHb. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar karboksihemoglobin pada pengrajin genteng. Jenis penelitian ini deskriptif analitik, teknik pengambilan sampel menggunakan <em>accidental sampling</em> dengan menggunakan alat spektrofotometer UV - Vis dan analisis korelasi pearson. Hasil penelitian pada 20 orang pengrajin genteng didapatkan nilai rentang COHb sebesar 4,92% - 7,53% melebihi nilai normal kadar COHb <3,5%. Hasil uji korelasi pearson kadar COHb dengan lama merokok memperoleh nilai r = 0,322 dan nilai p sebesar 0,166 atau >0,05 yang menunjukkan bahwa lama merokok dengan kadar COHb tidak berhubungan, sedangkan hasil uji korelasi pearson kadar COHb dengan lama bekerja memperoleh nilai r = 0,578 dan nilai p sebesar 0,008 atau <0,05 yang berarti interval korelasi sedang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kadar COHb dengan lama bekerja.</p>2026-04-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Nurul Hidhayah, Previta Zeizar Rahmawati, Erni Yohani Mahtutihttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12249Review Literature: an Update Faktor Risiko dan Skrining Awal Retinopati Diabetik2026-02-28T05:22:43+00:00Andi Asramandiasram151@gmail.comPrema Hapsari Hidayati prema.hapsari@umi.ac.idZulfikri Khalil Novriansyah zulfikrikhalil.novriansyah@umi.ac.idHasan Hasanhasanumr65@gmail.comMarlyanti Nur Rahmahmarlyantinurrahmah.akib@umi.ac.id<p>Retinopati diabetik (RD) merupakan komplikasi mikrovaskular serius dari diabetes melitus (DM) yang dapat menyebabkan kebutaan bila tidak dideteksi secara dini. Prevalensi RD di Indonesia cukup tinggi, mencapai 43,1% pada pasien DM tipe 2, dengan 26,1% di antaranya mengancam penglihatan. Penelitian ini menggunakan metode literature review terhadap 10 artikel ilmiah yang relevan, dipublikasikan antara 2020–2025, untuk mengidentifikasi faktor risiko utama RD dan menekankan pentingnya skrining awal. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor risiko paling konsisten adalah durasi DM, kadar HbA1c tinggi, hipertensi, serta jenis kelamin laki-laki. Penurunan HbA1c sebesar 1% dapat menurunkan risiko RD hingga 40%, sedangkan penurunan tekanan darah 10 mmHg menurunkan risiko sebesar 35%. Dislipidemia juga berperan, meskipun hasil penelitian terkait masih bervariasi. Skrining awal RD terbukti efektif mencegah kebutaan melalui deteksi dini menggunakan fotografi fundus, Optical Coherence Tomography (OCT), dan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI). Integrasi skrining ke layanan primer dan pemanfaatan telemedicine direkomendasikan untuk menjangkau daerah dengan akses terbatas. Kesimpulannya, pengendalian faktor risiko dan skrining rutin merupakan strategi utama dalam pencegahan RD dan pengurangan beban kesehatan masyarakat.</p>2026-04-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Andi Asram, Prema Hapsari Hidayati , Zulfikri Khalil Novriansyah , Hasan Hasan, Marlyanti Nur Rahmahhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12424Pengaruh Media Booklet Sebagai Promosi Kesehatan terhadap Pengetahuan Ibu Tentang Kecacingan pada Balita di Puskesmas Antang Perumnas2026-03-03T15:06:20+00:00Safa Wulan Cahyani Kartonoardianmali98@gmail.comSantriani Hadisafawulancahyani17@gmail.comMaona Nulanda safawulancahyani17@gmail.comHermiaty Nasruddinhermiaty.nasaruddin@umi.ac.idDahliah Dahliahdahliahaz@umi.ac.id<p>Kecacingan Soil Transmitted Helminth (STH) masih jadi permasalahan kesehatan pada balita di Indonesia dan berdampak jangka panjang terhadap gizi, tumbuh kembang, dan kognitif anak. Di wilayah Puskesmas Antang Kota Makassar, kasus kecacingan pada anak masih cukup tinggi. Pencegahan memerlukan peningkatan pengetahuan ibu melalui promosi perilaku hidup bersih dan sehat. Media booklet digunakan sebagai sarana edukasi yang praktis dan informatif. Studi ini dilakukan untuk mengevaluasi profil responden berdasarkan latar belakang pendidikan dan pekerjaan ibu, sekaligus mengukur efektivitas media booklet dalam meningkatkan pemahaman mengenai infeksi cacing balita di wilayah kerja Puskesmas Antang, Makassar. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain <em>quasi-experiment (pretest–posttest control group)</em>, penelitian menemukan bahwa mayoritas responden merupakan ibu rumah tangga dengan tingkat pendidikan menengah atas (SMA). Secara statistik, terdapat peningkatan signifikan pada rerata skor pengetahuan kelompok intervensi setelah pemberian edukasi via booklet (p < 0,005), sementara kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Skor pengetahuan kelompok intervensi juga lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol, mengonfirmasi bahwa intervensi melalui media booklet secara nyata meningkatkan skor pengetahuan responden terkait kecacingan. Secara praktis, media ini terbukti efektif sebagai alat promosi kesehatan yang mampu mendorong pemahaman ibu tentang pencegahan dini penyakit cacingan pada balita di lingkungan Puskesmas Antang Kota Makassar.</p>2026-04-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Safa Wulan Cahyani Kartono, Santriani Hadi, Maona Nulanda , Hermiaty Nasruddin, Dahliah Dahliahhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12313Hubungan Penurunan Fungsi Pendengaran dengan Fungsi Kognitif pada Lanjut Usia di Puskesmas Pertiwi Makassar2026-02-16T05:56:28+00:00Achmad Fauzan Zackyfauzanzacky04@gmail.comMuhammad Alim Jayamuhammadalim.jaya@umi.ac.idAhmad Ardhani Pratamafauzanzacky04@gmail.comAndi Tenri Sannafauzanzacky04@gmail.comMohammad Reza Zainal Abidinfauzanzacky04@gmail.com<p>Peningkatan jumlah lanjut usia di Indonesia diikuti oleh meningkatnya masalah kesehatan terkait penuaan, termasuk penurunan fungsi pendengaran dan fungsi kognitif. Gangguan pendengaran merupakan kondisi yang sering terjadi pada lansia dan diketahui dapat memengaruhi kemampuan komunikasi serta kemandirian. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penurunan fungsi pendengaran berhubungan dengan percepatan penurunan fungsi kognitif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis gangguan penurunan pendengaran pada lanjut usia, untuk mengetahui fungsi kognitif pada lanjut usia, serta untuk menganalisis hubungan gangguan penurunan pendengaran dengan fungsi kognitif pada lanjut usia. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar lansia mengalami gangguan pendengaran tipe sensorineural dan menunjukkan penurunan fungsi kognitif, terutama pada kategori gangguan kognitif berat. Namun, hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara gangguan penurunan pendengaran dengan fungsi kognitif pada lanjut usia. Maka dapat disimpulkan bahwa gangguan pendengaran tipe sensorineural dan penurunan fungsi kognitif banyak ditemukan pada lansia, namun penurunan fungsi pendengaran tidak berhubungan secara signifikan dengan fungsi kognitif.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Achmad Fauzan Zacky, Muhammad Alim Jaya, Ahmad Ardhani Pratama, Andi Tenri Sanna, Mohammad Reza Zainal Abidinhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12420Karakteristik Pasien dengan Dehisensi Luka Post Laparotomi di RS Ibnu Sina Makassar Tahun 2021-20252026-03-03T13:55:37+00:00Waode Khusnul Khotimah Putriwaodeputri210@gmail.comReeny Purnamasari Juhamran reenypurnamasari11@gmail.comAkina Maulidhany Tahir reenypurnamasari11@gmail.comAzis Beru Gani reenypurnamasari11@gmail.comAgung Kurniawanreenypurnamasari11@gmail.com<p>Dehisensi luka merupakan komplikasi pascaoperasi akibat gangguan penyembuhan luka yang sering terjadi pada pasien post laparatomi. Risiko dehisensi dipengaruhi oleh faktor infeksi, kondisi pasien, dan karakteristik luka operasi. Tingginya angka tindakan laparatomi menunjukkan pentingnya pencegahan komplikasi pascaoperasi. Namun, data mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya dehisensi luka pada pasien post laparatomi di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi Faktor-Faktor yang Dapat Mempengaruhi Kejadian Dehisensi Luka pada Pasien setelah Menjalani Operasi Laparotomi di Rumah Sakit Ibnu Sina. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Hasil penelitian ini berhasil mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian dehisensi luka pada pasien post laparatomi di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar, meliputi usia 46–55 tahun, riwayat merokok, adanya komorbid, tindakan laparatomi emergensi, kadar hemoglobin rendah, kadar albumin rendah, serta adanya infeksi luka operasi. Maka dapat disimpulkan bahwa dehisensi luka pasca laparatomi dipengaruhi oleh faktor usia, kondisi klinis pasien, status nutrisi, jenis tindakan operasi, dan infeksi luka operasi, yang secara bersama-sama menghambat proses penyembuhan luka dan meningkatkan risiko terjadinya dehisensi.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Waode Khusnul Khotimah Putri, Reeny Purnamasari Juhamran , Akina Maulidhany Tahir , Azis Beru Gani , Agung Kurniawanhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12421Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Perkembangan Karakter Mahasiswa Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Periode 20252026-03-03T14:48:23+00:00Nurfi Tarissyah Batariolabnurfitarisa@gmail.comShulhana Mokhtarshulhana.mokhtar@umi.ac.idMuhammad Wirawan Harahapwirawan.harahap@umi.ac.idArmanto Makmunshulhana.mokhtar@umi.ac.idWindy Nadia Aisyahshulhana.mokhtar@umi.ac.id<p>Organisasi kemahasiswaan, khususnya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), berperan penting dalam pengembangan karakter mahasiswa melalui pembentukan nilai tanggung jawab, kepemimpinan, kedisiplinan, dan religiusitas. Dalam pendidikan kedokteran, penguatan karakter dan kompetensi non-akademik sejalan dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI). Budaya organisasi yang positif terbukti berkontribusi terhadap pembentukan karakter dan motivasi mahasiswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Organisasi Terhadap Perkembangan Karakter Mahasiswa Pengurus BEM Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia. Desain penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif, metode penelitian yang diambil adalah rancangan penelitian observasi analitik dengan desain penelitian potong lintang (cross-sectional). Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap perkembangan karakter mahasiswa pengurus BEM Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia. Budaya organisasi berkontribusi nyata dalam membentuk karakter disiplin, religius, kepemimpinan, dan tanggung jawab mahasiswa, sehingga tujuan umum penelitian untuk mengetahui pengaruh budaya organisasi terhadap perkembangan karakter mahasiswa pengurus BEM FK UMI telah tercapai. Dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap perkembangan karakter mahasiswa pengurus BEM Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia, khususnya pada aspek disiplin, religius, kepemimpinan, dan tanggung jawab.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Nurfi Tarissyah Batariola, Shulhana Mokhtar, Muhammad Wirawan Harahap, Armanto Makmun, Windy Nadia Aisyahhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12477Karakterisasi Imunogenesitas Protein Pilli Salmonella Typhi: Analisis Absorban Antibodi dan Spesifisitas dengan Western Blot pada Mencit Balb/C2026-03-09T07:59:45+00:00Al Hidayanialhidayani@umpr.ac.idSri Darmawatialhidayani@umpr.ac.idFitria Hariati Ramdhani alhidayani@umpr.ac.idWindya Nazmatur Rahmahalhidayani@umpr.ac.id<p>Protein pili berperan dalam adhesi dan bersifat imunogenik, berpotensi sebagai kandidat vaksin subunit. Penelitian ini menganalisis imunogenesitas protein pili <em>S. typhi</em> isolat BA07.4 melalui pengukuran absorbansi antibodi dan karakterisasi spesifisitasnya. Protein pili diisolasi dengan metode biphasic, dimurnikan, dan digunakan untuk imunisasi 30 ekor mencit Balb/C (6 kelompok: kontrol dan dosis 2, 3, 4, 5, 6 µg) secara intraperitoneal tiga kali. Kadar antibodi diukur dengan inhouse ELISA (λ 405 nm) dan spesifisitasnya dianalisis dengan Western blot. Rerata absorbansi tertinggi pada dosis 5 µg (2,827), diikuti dosis 6 µg (2,678), 4 µg (2,456), 3 µg (2,134), 2 µg (1,856), dan kontrol (0,423). Analisis One Way ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok (p=0,000) dengan semua kelompok perlakuan berbeda signifikan terhadap kontrol (p<0,05). <em>Western blot</em> menunjukkan pita spesifik pada berat molekul 87, 58, dan 42 kDa pada kelompok dosis 5 µg, sementara kontrol tidak menunjukkan pita. Protein pili <em>S. typhi</em> bersifat imunogenik dengan dosis optimum 5 µg, menghasilkan antibodi yang secara spesifik mengenali sub unit protein pili 87, 58, dan 42 kDa, mendukung potensinya sebagai kandidat vaksin subunit.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Al Hidayani, Sri Darmawati, Fitria Hariati Ramdhani , Windya Nazmatur Rahmahhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12502Profil Kadar Besi Serum Pada Anak Usia Sekolah Yang Tinggal di Area Pertambangan Emas Skala Kecil di Sepang Simin, Gunung Mas2026-03-12T04:03:50+00:00Noor Fadillahnoorfadillah@umpr.ac.idDwi Purbayantidwipurbayanti@gmail.comIka Putri Andini dwipurbayanti@gmail.comWindya Nazmatur Rahmahdwipurbayanti@gmail.comFaradila Faradila faradila1991@hotmail.comFera Sartikasartikafera3@gmail.com<p>Penambangan Emas Skala Kecil (<em>Artisanal and Small-Scale Gold Mining</em>/ASGM) masih banyak dilakukan di Indonesia dan berpotensi menimbulkan paparan merkuri yang dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat terutama pada anak sebagai kelompok rentan. Paparan merkuri diketahui dapat mengganggu metabolisme zat besi dan proses hematopoiesis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil kadar besi serum pada anak-anak yang bermukim di sekitar kawasan ASGM di Desa Sepang Simin, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Penelitian ini menerapkan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional study yang melibatkan 43 anak usia 9–12 tahun. Sampel darah vena diambil untuk memperoleh serum dan dilakukan pemeriksaan kadar besi serum menggunakan metode Iron-Ferrozine dengan fotometer Biosystem BTS-350. Analisis data dilakukan secara deskriptif serta uji beda melalui Independent Sample t-test. Hasil penelitian memperlihatkan bahwasanya sebagian besar responden memiliki kadar besi serum dalam kisaran normal (86%), sedangkan 14% responden memiliki kadar besi serum rendah. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan kadar besi serum antara anak laki-laki dan perempuan (p = 0,025), dengan rerata kadar besi serum pada anak laki-laki lebih rendah dibandingkan perempuan. Temuan ini menunjukkan bahwa status zat besi pada anak di wilayah pertambangan tidak sekadar terpengaruh faktor nutrisi dan pertumbuhan, namun juga berpotensi berkaitan dengan paparan lingkungan seperti merkuri yang dapat mengganggu metabolisme besi dan eritropoiesis.</p>2026-04-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Noor Fadillah, Dwi Purbayanti, Ika Putri Andini , Windya Nazmatur Rahmah, Faradila Faradila , Fera Sartikahttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12990Efek Aktivitas Lari Terhadap Metabolisme Glukosa Pada Mahasiswa Pendidikan Jasmani (Penjas) 2026-05-20T03:33:57+00:00Sudarsono Sudarsonosudarsono@yahoo.co.idDesyani Arizadesyaniariza@yahoo.co.idAriana Asrisudarsono@yahoo.co.id<p>Saat ini masalah kesehatan sudah bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit degeneratif yang penyebabnya di duga karna perubahan gaya hidup, pola makan, faktor lingkungan serta kurangnya aktivitas fisik. Gaya hidup kurang aktivitas dan terlalu banyak mengonsumsi makanan mengandung gula dan lemak serta kurangnya asupan serat dapat memicu penyakit degeneratif. Penyakit degeneratif yang cukup banyak memengaruhi angka kesakitan dan kematian adalah penyakit Diabetes Mellitus dan Kardiovaskuler. Aktifitas fisik sangat berdampak pada penurunan kadar gula darah karena pada saat tubuh bergerak, maka akan terjadi peningkatan kebutuhan bahan bakar tubuh oleh otot yang aktif. Glukosa hanya sedikit di gunakan saat istrahat, sedangkan glukosa banyak digunakan saat berolahraga sehingga akan menurunkan kadar gula darah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat “Efek Aktivitas Lari Terhadap Metabolisme Glukosa Pada Mahasiswa Pendidikan Jasmani (Penjas)”. Metode penelitian yang di gunakan adalah Deskriptif Observasional dengan menggunakan populasi mahasiswa prodi penjas Universitas Megarezky Makassar sebanyak 15 responden. Hasil penelitian menemukan ada perubahan nilai kadar Glukosa darah terhadap mahasiswa yang melakukan aktifitas lari dengan rerata kadar Glukosa 100,46 mg/dl sebelum aktifitas lari dan rerata glukosa darah 91,6 mg/dl setelah aktiftas lari. Kesimpulan : Ada efek perubahan kadar glukosa darah terhadap aktifitas lari mahasiswa Penjas.</p>2026-04-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sudarsono Sudarsono, Desyani Ariza, Ariana Asrihttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/10057Uji Stabilitas Trigliserida pada Pooled Sera dengan Penambahan Etilen Glikol Selama 0, 7, dan 30 Hari Penyimpanan2025-06-13T04:30:43+00:00Fildia Salsabilafildiabjn123@gmail.com<p>Kestabilan bahan kontrol merupakan faktor penting dalam menjamin keandalan hasil pemeriksaan laboratorium. <em>Pooled sera</em> banyak digunakan sebagai alternatif bahan kontrol karena mudah diperoleh dan berbiaya rendah, namun stabilitas analit di dalamnya sangat dipengaruhi oleh kondisi penyimpanan dan penambahan bahan pengawet. Etilen glikol diketahui memiliki sifat antibeku dan antimikroba sehingga berpotensi mempertahankan stabilitas trigliserida. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi stabilitas kadar trigliserida pada <em>pooled sera</em> yang ditambahkan etilen glikol 15% selama penyimpanan 0 hari, 7 hari, dan 30 hari pada suhu −20°C. Desain penelitian menggunakan pendekatan eksperimental dengan sampel berupa <em>pooled sera</em> dari 10 responden berkadar trigliserida normal. Pemeriksaan trigliserida dilakukan dengan metode fotometri, sedangkan analisis statistik menggunakan uji Friedman untuk menilai perbedaan antar waktu penyimpanan. Hasil menunjukkan adanya perbedaan signifikan kadar trigliserida selama penyimpanan (p < 0,05), dengan peningkatan mencolok pada hari ke-7 sebelum menurun kembali pada hari ke-30 meskipun tetap lebih tinggi dibanding hari ke-0. Temuan ini mengindikasikan bahwa penambahan etilen glikol 15% tidak efektif mempertahankan stabilitas trigliserida hingga 30 hari penyimpanan pada suhu −20°C. Dengan demikian, <em>pooled sera</em> beretilen glikol 15% kurang direkomendasikan sebagai bahan kontrol trigliserida untuk penyimpanan jangka panjang.</p>2026-04-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Fildia Salsabilahttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/12466Optimasi Asam Sulfat dan Asam Klorida Sebagai Peluntur Malachite Green pada Pewarnaan Spora Metode Schaeffer–Fulton Secara Spektrofotometri2026-03-08T03:34:04+00:00Fitria Hariati Ramdhanitia.fitria210393@gmail.comWindya Nazmatur Rahmahtia.fitria210393@gmail.comAl Hidayanialhidayani@umpr.ac.id<p>Bakteri pembentuk endospora seperti <em>Bacillus subtilis</em> memerlukan teknik pewarnaan khusus untuk identifikasinya. Metode<em> Schaeffer-Fulton</em> menggunakan <em>malachite green</em> sebagai pewarna utama dan safranin sebagai pewarna kontras. Tahap pelunturan berperan penting dalam menghasilkan kontras warna yang jelas antara spora dan sel vegetatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi penggunaan asam sulfat (H<sub>2</sub>SO<sub>4</sub>) dan asam klorida (HCl) sebagai peluntur <em>malachite green </em>pada pewarnaan spora metode <em> Schaeffer-Fulton </em>yang dianalisis secara spektrofotometri. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan variasi peluntur H<sub>2</sub>SO<sub>4 </sub>0,5% dan I%, serta HCl 0,5% dan 1%. Data dianalisis menggunakan Uji One Way Anova dan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan nilai F-hitung 196621,2 lebih besar dari F-tabel 2,603 dengan p-value 0,000 (<0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar perlakuan. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa HCl 1% menghasilkan nilai absorbansi sisa zat warna paling rendah (1,587) sehingga merupakan peluntur paling efektif.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Fitria Hariati Ramdhani, Windya Nazmatur Rahmah, Al Hidayanihttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/11832Identifikasi Mycobacterium Tuberculosis dengan Pemeriksaan Mikroskopis pada Penderita TB Paru di RSUD Sultan Sulaiman Tahun 2025 2026-04-05T09:35:51+00:00Juliawati Simaenaria Dachi serirayani2009@gmail.comElvi Sri Ristiani Hiaserirayani2009@gmail.comSeri Rayani Bangunserirayani2009@gmail.com<p>Tuberkulosis (TB) adalah penyakit akibat infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Infeksi tuberkulosis dapat menyerang berbagai organ tubuh manusia, yang terbanyak adalah paru (70–80%). Target global dan milstone penurunan insiden TBC dan kematian TBC telah ditetapkan sebagai bagian dari SDGs dan End TBC Strategi TBC pada akhir tahun 2030 yaitu penurunan 90%. Oleh karena itu pemeriksaan identifikasi Mycobacterium tuberculosis perlu dilakukan untuk penegakan diagnosa TB Paru. Adapun tujuannya untuk mengetahui jenis gram, bentuk, dan jumlah Mycobacterium tuberculosis dari sampel sputum pada penderita TB Paru dengan pewarnaan ziehl neelsen di RSUD Sultan Sulaiman tahun 2025. Metode yang digunakan deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel 14 orang. Dari pemeriksaan yang dilakukan ditemukan jenis gram Mycobacterium tuberculosis gram positif sebanyak 14, Mycobacterium tuberculosis berbentuk basil, jumlah dari 14 sampel maka indeks bakteri +1 pada 9 sampel (64.2%), indeks bakteri +2 pada 3 sampel (21.42%), indeks bakteri +3 pada 2 sampel (14.28%). Perlu dilakukan pemeriksan Mycobacterium tuberculosis dengan metode TCM.</p>2026-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Juliawati Simaenaria Dachi , Elvi Sri Ristiani Hia, Seri Rayani Bangunhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/9371Aktivitas Antidiare Ekstrak Etanol Kulit Pisang Kepok (Musa Paradisica L.) terhadap Mencit Putih Jantan2025-02-12T02:50:09+00:00Risma Indrika Agustingadisnr2003@gmail.comNovia Arianinovia@STIKES-ISFI.ac.idMuhammad Ma’rufnovia@STIKES-ISFI.ac.id<p>Diare adalah suatu kondisi di mana seseorang sering buang air besar dengan feses cair atau encer. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antidiare adalah pisang kepok, terutama pada kulit buah pisang kepok. Kulit buah pisang kepok mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, steroid dan saponin yang berpotensi dalam mengurangi konsetrasi gejala diare. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efek antidiare dan dosis ekstrak kulit pisang kepok pada mencit jantan. Jenis penelitian ini adalah eksperimental yang menggunakan hewan uji mencit jantan dengan berat badan 20-30 g sebanyak 24 ekor yang terdiri dari kelompok normal, kelompok kontrol negatif Na-CMC 0,5%, kelompok kontrol positif loperamid 0,02mg/20g BB, kelompok ekstrak dosis 1 mg/20g BB, 1,3mg/20g BB, dan 1,5mg/20g BB. Penelitian ini menggunakan metode proteksi dengan induksi kombinasi <em>oleum ricini</em> 0,75mL dan magnesium sulfat 2mg/Kg BB secara oral. Parameter yang diamati diantaranya berat feses, konsistensi feses, dan frekuensi diare. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa pemberian dosis 1 mg/20g BB, 1,3mg/20g BB, dan 1,5mg/20g BB memiliki efek sebagai antidiare. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit pisang kepok memiliki aktivitas sebagai antidiare dengan dosis efektif 1,5mg/20g BB.</p>2026-04-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Risma Indrika Agustin, Novia Ariani, Muhammad Ma’rufhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/bjmlt/article/view/11907Stabilitas Spesimen Urine Positif Amfetamin yang Diawetkan dengan Kitosan 2026-03-13T01:22:53+00:00Riska Febrianiriskafbr324@gmail.comAry Nurmalasariarynurmalasari@stikesmucis.ac.idNabil Ridla Firdausnabilridla.firdaus@gmail.comDoni Setiawandonisetiawan@stikesmucis.ac.id<p>Amfetamin merupakan salah satu napza golongan psikotropika golongan II dengan potensi penyalahgunaan tinggi. Spesimen urine yang menggandung amfetamin banyak digunakan untuk dalam pemeriksaan toksikologi klinik dan forensik. Stabilitas analit selama penyimpanan menjadi faktor kritis terhadap keakuratan hasil. Degradasi senyawa aktif dalam urine dapat terjadi akibat pengaruh mikroorganisme, sehingga diperlukan pengawet alternatif yang aman dan efektif. Kitosan, yang merupakan polimer alami dengan kemampuan antimikroba, memiliki kemungkinan untuk dijadikan pengawet alternatif guna memperpanjang stabilitas amfetamin dalam urine. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kitosan 0% dan 2% dalam mempertahankan stabilitas amfetamin pada spesimen urine pada suhu ruang 25–27 °C dan suhu 2–8 °C selama empat minggu. Metode penelitian ini adalah eksperimen murni (<em>true experimental design</em>) dengan enam kelompok perlakuan dan dua kali pengulangan per kelompok (n=2). Spesimen urine positif amfetamin diperiksa dengan menggunakan rapid test imunokromatografi. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis setelah uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan distribusi tidak normal (p=0,006). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antarkelompok perlakuan (p=0.960). Namun, penambahan kitosan 1% dan 2% pada suhu 2–8 °C mampu mempertahankan stabilitas hingga minggu kedua. Sedangkan tanpa dan dengan penambahan kitosan 1% dan 2% pada suhu ruang 25–27 °C hanya stabil hingga 1 minggu. Disimpulkan bahwa penambahan kitosan pada suhu 2–8 °C memperpanjang durasi stabilitas amfetamin di dalam spesimen urine.</p>2026-04-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Riska Febriani, Ary Nurmalasari, Nabil Ridla Firdaus, Doni Setiawan