Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun <p style="text-align: justify;">Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan is a Scientific Journal managed by <a title="Faculty of Agriculture and Forestry" href="http://fapertahut.umpalangkaraya.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">Faculty of Agriculture and Forestry</a> <a href="http://umpalangkaraya.ac.id" target="_blank" rel="noopener">Universitas Muhammadiyah Palangkaraya</a> and published twice a year (in June and December) by <a href="http://lp2m.umpalangkaraya.ac.id" target="_blank" rel="noopener">Institute for Researches and Community Services</a> <a href="http://umpalangkaraya.ac.id" target="_blank" rel="noopener">Universitas Muhammadiyah Palangkaraya</a>, contains articles of research and critical-analysis studies in Agrotechnology, Forestry, and another related topics.</p> <p style="text-align: justify;"><a title="SINTA" href="http://sinta2.ristekdikti.go.id/journals/detail?id=3827"><img src="https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun/management/settings/context//public/site/images/adminjournal/SINTA4.png" width="81" height="29" /></a></p> <p style="text-align: justify;">Daun J Pertanian Kehutanan is accredited at <strong>"SINTA 4"</strong> until December 2028 by Ministry of Research, Technology and Higher Education, Indonesia No: 10/C/C3?DT.05.00/2025.</p> ​Institute for Researches and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya en-US Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan 2356-0312 <p>All rights reserved. This publication may be reproduced, stored in a retrieval system, or transmitted in any form or by any means, electronic, mechanical, photocopying, recording.</p> ANALISIS PERSEDIAAN BAHAN BAKU ALDI MANDOMAI MEUBEL PALANGKA RAYA https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun/article/view/12513 <p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9.0pt; font-family: 'Gill Sans MT',sans-serif;">Penelitian ini bertujuan menganalisis sistem persediaan bahan baku dan proses produksi pada Aldi Mandomai Meubel di Kota Palangka Raya serta mengevaluasi efisiensi biaya persediaan menggunakan metode <em><span style="font-family: 'Gill Sans MT',sans-serif;">Economic Order Quantity</span></em> (EOQ), <em><span style="font-family: 'Gill Sans MT',sans-serif;">Safety Stock</span></em> (SS), dan <em><span style="font-family: 'Gill Sans MT',sans-serif;">Reorder Point</span></em> (ROP). Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terkait pembelian, penggunaan, biaya pemesanan, serta biaya penyimpanan bahan baku. Bahan baku utama yang digunakan meliputi kayu ulin, benuas, meranti, dan kayu lokal bandsaw. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem persediaan bahan baku pada perusahaan masih dilakukan secara manual berdasarkan pengalaman manajerial sehingga belum optimal dalam pengendalian biaya persediaan. Hasil analisis EOQ menunjukkan jumlah pemesanan bahan baku yang optimal sebesar 4,6 m³ setiap kali pemesanan dengan frekuensi pemesanan sebanyak 14 kali per tahun. Perhitungan <em><span style="font-family: 'Gill Sans MT',sans-serif;">Safety Stock</span></em> sebesar 14,83 m³ dan <em><span style="font-family: 'Gill Sans MT',sans-serif;">Reorder Point</span></em> sebesar 15 m³ menunjukkan batas persediaan minimum untuk melakukan pemesanan kembali guna menjaga kelancaran produksi. Total biaya persediaan menggunakan metode EOQ sebesar Rp1.391.086 per tahun, lebih rendah dibandingkan sistem perusahaan sebesar Rp4.350.000 per tahun, sehingga diperoleh penghematan biaya sebesar Rp2.958.914 per tahun. Penerapan metode EOQ, <em><span style="font-family: 'Gill Sans MT',sans-serif;">Safety Stock</span></em>, dan <em><span style="font-family: 'Gill Sans MT',sans-serif;">Reorder Point</span></em> terbukti mampu meningkatkan efisiensi pengendalian persediaan bahan baku serta mendukung kontinuitas proses produksi pada industri mebel.</span></p> Wahyu Supriyati Alpian Alpian Hana Nia Sarah Br Ginting Muhammad Fadhil Amurudin Sudomo Gimson Luhan Yanciluk Yanciluk Copyright (c) 2026 wahyu supriyati, Alpian, Hana Nia Sarah Br Ginting, Muhammad Fadhil Amurudin Sudomo, Gimson Luhan, Yanciluk http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-30 2026-06-30 13 1 1 8 10.33084/daun.v13i1.12513 KARAKTERISASI KANDUNGAN HARA PUPUK ORGANIK PADAT BERBASIS LIMBAH NANAS DAN KOTORAN TERNAK DI KABUPATEN KUTAI TIMUR https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun/article/view/12850 <p>Pemanfaatan limbah organik yang berasal dari limbah kulit nanas serta kotoran ternak seperti sapi dan ayam memiliki berpotensi tinggi sebagai pupuk organik, karena mampu meningkatkan kandungan unsur hara tanah serta mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan hara pada kombinasi limbah nanas dan kotoran hewan yang dihasilkan oleh Kelompok Tani Karya Mandiri di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan evaluatif. Penelitian dilakukan melalui analisis laboratorium terhadap sampel pupuk organik padat untuk mengukur parameter kimia utama, yang selanjutnya dibandingkan dengan standar mutu pupuk organik berdasarkan SNI 7763:2024. Secara umum, pupuk organik yang dihasilkan memiliki potensi sebagai sumber hara alternatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa kandungan C-organik sebesar 32,20%, yang mengindikasikan tingginya bahan organik dalam pupuk. Nilai pH sebesar 7,15 tergolong netral dan sesuai untuk mendukung ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Kandungan fosfor total (P₂O₅) sebesar 4,09% dan kalium (K₂O) sebesar 3,65% menunjukkan bahwa pupuk ini cukup kaya akan unsur hara makro esensial. Namun, kandungan nitrogen (N) tidak terdeteksi (di bawah batas deteksi 0,01%), sehingga rasio C/N tidak dapat dihitung. Kadar air tercatat sebesar 35,56%, yang masih relatif tinggi dan dapat mempengaruhi stabilitas serta daya simpan pupuk.</p> Bahar Udin Suhardi Suhardi Agusty Saputra Copyright (c) 2026 Bahar Udin, Suhardi Suhardi, Agusty Saputra http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-30 2026-06-30 13 1 9 13 10.33084/daun.v13i1.12850 KARAKTERISTIK SIFAT FISIK TANAH PADA LAHAN KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) BERDASARKAN KETINGGIAN TEMPAT DI KAWASAN GUNUNG KARANG https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun/article/view/12869 <p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Tanah merupakan koponen utama untuk mendukung pertumbuhan tanaman serta berfungsi sebagai media tumbuh sekaligus penyedia unsur hara, udara, dan udara bagi tanaman. Kualitas tanah sangat ditentukan oleh sifat fisiknya, seperti tekstur, struktur, dan bobot isi, yang berperan dalam mengatur ketersediaan udara, aerasi, serta pertumbuhan akar. Oleh karena itu diperlukan penelitian terkait sifat fisik tanah untuk menentukan lokasi yang sesui bagi pertumbuhan tanaman kopi Robusta berdasarkan ketinggian tempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sifat fisik tanah pada lahan kopi Robusta berdasarkan perbedaan ketinggian tempat di kawasan Gunung Karang. Metode yang digunakan adalah survei lapangan dengan pengambilan sampel tanah pada tiga ketinggian berbeda, yaitu dataran rendah di Desa Panyaungan jaya (±385 mdpl), dataran sedang di Desa Juhut (±551 mdpl), dan dataran tinggi di Desa Citaman (±742 mdpl). Sampel dianalisis di laboratorium untuk menentukan tekstur tanah (metode pipet), struktur tanah (observasi visual), dan bobot isi tanah (metode gravimetri). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi perubahan sifat fisik tanah seiring peningkatan ketinggian. Tekstur tanah berubah dari lempung di dataran rendah menjadi lempung berdebu di dataran sedang dan tinggi. Struktur tanah juga mengalami perubahan dari granular sedang-kasar menjadi granular halus, yang menunjukkan peningkatan stabilitas agregat. Selain itu, bobot isi tanah menurun dari kategori sedang menjadi ringan, menandakan peningkatan porositas dan kondisi aerasi yang lebih baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada dataran tinggi memiliki stabilitas agregat, porositas, dan kapasitas menahan udara yang lebih baik.</span></span></p> Vivin Safinah Sri Ritawati Nuniek Hermita Endang Sulistyorini Copyright (c) 2026 VIVIN SAFINAH, Sri Ritawati, Nuniek Hermita, Endang Sulistyorini http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-30 2026-06-30 13 1 32 39 10.33084/daun.v13i1.12869 EFEKTIVITAS MIKROORGANISME LOKAL BERBAHAN NASI BASI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans Poir.) https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun/article/view/12686 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas mikroorganisme lokal (MoL) berbahan nasi basi dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil kangkung darat (<em>Ipomoea reptans</em> Poir.) serta mengidentifikasi konsentrasi perlakuan yang paling optimal. Penelitian dilaksanakan pada Juli–September 2022 di Kampung Hom-hom, Kecamatan Hubikiak, Kabupaten Jayawijaya, menggunakan rancangan acak kelompok dengan lima taraf perlakuan, yaitu tanpa MoL, 20 mL MoL + 80 mL air, 40 mL MoL + 60 mL air, 60 mL MoL + 40 mL air, dan 80 mL MoL + 20 mL air. Masing-masing perlakuan diulang empat kali. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, dan berat segar tanaman. Data dianalisis menggunakan ANOVA pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi MoL nasi basi berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan dan hasil. Perlakuan terbaik diperoleh pada konsentrasi 80 mL MoL + 20 mL air, yang menghasilkan tinggi tanaman 48,30 cm, jumlah daun 16,20 helai, lebar daun 6,08 cm, dan berat segar 283,32 g. Hasil ini menunjukkan bahwa nasi basi berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku MoL yang murah, sederhana, dan ramah lingkungan untuk mendukung budidaya kangkung darat.</p> Inrianti Inrianti Sepling Paling Alber Tulak Meri Berliana Erinus Mosip Maria Gabriela Mbinu John Pumoko Copyright (c) 2026 Inrianti, Sepling Paling, Alber Tulak, Meri Berliana, Erinus Mosip, Maria Gabriela Mbinu, John Pumoko http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-30 2026-06-30 13 1 14 21 10.33084/daun.v13i1.12686 Penerapan Teknis Budidaya oleh Petani pada Produksi Alpukat di Lahan Gambut : Studi Kasus di Desa Tahai Jaya dan Kereng Bengkirai https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun/article/view/12509 <p>Budidaya alpukat pada lahan gambut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai komoditas hortikultura, namun keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh penerapan teknik budidaya yang sesuai dengan karakteristik lahan gambut yang umumnya memiliki tingkat kemasaman tinggi, ketersediaan unsur hara rendah, dan kondisi pengairan yang kurang stabil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan teknis budidaya alpukat oleh petani pada lahan gambut, mengetahui produksi alpukat yang dihasilkan, serta menjelaskan hubungan antara penerapan teknis budidaya dan produksi alpukat. Penelitian dilaksanakan di Desa Tahai Jaya dan Desa Kereng Bengkirai dengan menggunakan metode survei melalui wawancara dan observasi terhadap petani alpukat. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan karakteristik responden, penerapan teknis budidaya, dan produksi alpukat, serta menganalisis hubungan dengan korelasi <em>Spearman</em> antara aspek teknis budidaya dan produksi alpukat. Hasil penelitian bahwa penerapan teknis budidaya alpukat oleh petani meliputi persiapan media tanam, pemilihan bibit, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), dan sistem <em>drainase.</em> Produksi alpukat lahan gambut berkisar antara 20 hingga 100 kilogram per pohon per tahun. Hasil uji <em>Spearman </em>menunjukkan bahwa ketebalan gambut, luas lahan dan pemupukan, serta varietas bibit&nbsp; terdapat hubungan dengan produksi alpukat. Hubungan terkuat pada varietas bibit terhadap produksi alpukat pada lahan gambut. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa penerapan teknik budidaya yang tepat dan pemilihan varietas bibit menjadi faktor penting dalam produksi alpukat pada lahan gambut.</p> Evi Faridawaty Pienyani Rosawanti Suparno Suparno Untung Darung Susi Kresnatita Copyright (c) 2026 Evi Faridawaty, Pienyani Rosawanti, Suparno Suparno, Untung Darung, Susi Kresnatita http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-30 2026-06-30 13 1 22 31 10.33084/daun.v13i1.12509 Sensitivitas Metode Thresholding Terhadap Apparent Leaf Area Index Downward-Looking Digital Cover Photography Pada Kanopi Jagung Manis https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun/article/view/13157 <p><em>Leaf Area Index (LAI) is an important parameter for describing crop canopy conditions, but LAI estimation based on downward-looking Digital Cover Photography (DCP) strongly depends on the successful segmentation of vegetation and non-vegetation pixels. This study aimed to evaluate the sensitivity of seven thresholding methods, namely Otsu, Yen, Li, Triangle, Isodata, Mean, and Minimum, to Apparent LAI in sweet corn canopy. RGB images that passed quality control were converted into the CIE Lab* color space; subsequently, the a* channel was transformed and inverted before segmentation. Apparent LAI values were calculated using a gap fraction approach, the Beer-Lambert formulation, a 7 x 7 grid subdivision, and clumping index correction. The results showed that Otsu, Li, Isodata, and Mean were the most stable methods because they had complete sample numbers and data distributions that met the normality assumption. In contrast, Yen and Triangle produced extreme values, whereas Minimum showed processing limitations with only 80 valid data points. The sensitivity analysis showed that the moderate scenario had lower variation than the extreme and complete scenarios. The RM ANOVA results showed significant differences among the stable methods, with F = 345.4141, p-GG = 0.0000, and ng^2 = 0.43902. Post hoc testing showed that Li and Isodata were not significantly different, whereas the other method pairs differed significantly. These findings confirm that the choice of thresholding method strongly determines Apparent LAI estimation, with Li and Isodata as the most consistent methods, Otsu as a moderate comparator, Mean as a conservative method, and Yen, Triangle, and Minimum as diagnostic methods.</em></p> Muhammad Hifzan Silmi Najwa Robaniyah Firdaus Addawyah Wahidah Salsabillah Salsabillah Aditya Nurhidayat Kania Aliya Putri Zahrani Muhammad Amir Sholihin Sastrika Anindita Copyright (c) 2026 Muhammad Hifzan Silmi, Najwa Robaniyah Firdaus, Addawyah Wahidah, Salsabillah, Aditya Nurhidayat, Kania Aliya Putri Zahrani, Muhammad Amir Sholihin, Sastrika Anindita http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-30 2026-06-30 13 1 87 102 10.33084/daun.v13i1.13157 Peran Biochar dalam Sekuestrasi Karbon dan Mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca pada Budidaya Padi Sawah https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun/article/view/13131 <p>Perubahan iklim global menjadi salah satu tantangan utama sektor pertanian, termasuk budidaya padi sawah yang merupakan sumber emisi metana (CH₄) akibat kondisi tanah yang tergenang dan anaerob. Biochar telah banyak dikaji sebagai teknologi yang berpotensi meningkatkan kualitas tanah sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari budidaya padi. Artikel tinjauan ini bertujuan untuk mengkaji peran biochar dalam meningkatkan sekuestrasi karbon dan memitigasi emisi gas rumah kaca pada lahan sawah, serta membahas mekanisme kerja, faktor-faktor yang memengaruhi efektivitasnya, peluang pemanfaatan, dan tantangan implementasinya. Kajian dilakukan melalui studi literatur deskriptif terhadap publikasi ilmiah yang diperoleh dari Google Scholar dan ScienceDirect pada periode 2016–2026. Hasil kajian menunjukkan bahwa aplikasi biochar mampu meningkatkan cadangan karbon organik tanah sekitar 27–45% melalui peningkatan stabilitas karbon dan perbaikan sifat tanah. Selain itu, biochar umumnya menurunkan emisi CH₄ sebesar 22% hingga lebih dari 50% dengan menekan aktivitas mikroorganisme metanogen dan meningkatkan oksidasi metana oleh metanotrof. Emisi dinitrogen oksida (N₂O) juga dilaporkan menurun sebesar 17–48%, terutama melalui peningkatan aktivitas gen nosZ yang berperan dalam reduksi N₂O menjadi N₂. Namun, efektivitas biochar sangat dipengaruhi oleh jenis bahan baku, suhu pirolisis, dosis aplikasi, kondisi tanah, serta pengelolaan air dan hara. Secara keseluruhan, biochar berpotensi menjadi strategi mitigasi perubahan iklim yang mendukung keberlanjutan budidaya padi sawah. Penelitian selanjutnya perlu difokuskan pada evaluasi ekonomi jangka panjang dan pengembangan standar biochar berbasis sumber daya lokal.</p> Kharmelia Sandra Livia Emma Trinurani Sofyan Copyright (c) 2026 Kharmelia Sandra Livia, Emma Trinurani Sofyan http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-30 2026-06-30 13 1 79 86 10.33084/daun.v13i1.13131 Evaluasi Konsentrasi Atraktan Dalam Menekan Populasi Hama Penggerek Buah Kopi Pada Sistem Budidaya Kopi Robusta https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun/article/view/12914 <p>Penggerek buah kopi (PBKo) (<em>Hypothenemus hampei</em>) merupakan hama utama pada budidaya kopi robusta karena menyerang langsung buah dan menurunkan mutu serta hasil produksi. Penggunaan atraktan menjadi alternatif pengendalian yang ramah lingkungan karena mampu menarik imago PBKo sebelum menggerek buah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas beberapa perlakuan atraktan dalam menekan populasi dan intensitas serangan PBKo pada tanaman kopi robusta. Penelitian dilakukan melalui pemasangan perangkap atraktan pada beberapa perlakuan, yaitu P1, P2, dan P3, serta kontrol tanpa atraktan, dengan pengamatan terhadap jumlah PBKo yang terperangkap, intensitas serangan, dan suhu selama periode pengamatan. Data dianalisis menggunakan uji lanjut LSD taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P1 merupakan perlakuan paling efektif dengan jumlah PBKo terperangkap tertinggi, yaitu 95,2 ekor, dan intensitas serangan terendah, yaitu 8,8%. Perlakuan P2 dan P3 masing-masing menangkap 77,8 ekor dan 72,2 ekor PBKo dengan intensitas serangan 19,2% dan 24,0%, sedangkan kontrol menunjukkan intensitas serangan tertinggi sebesar 35,2%. Suhu selama pengamatan berada pada kisaran 29–31 °C dan masih mendukung aktivitas PBKo, namun efektivitas atraktan lebih berperan dalam menentukan jumlah hama yang terperangkap. Perlakuan P1 dapat direkomendasikan sebagai atraktan paling efektif untuk menekan populasi dan serangan PBKo pada sistem budidaya kopi robusta.</p> Agief Julio Pratama Muhammad Khalil Ar Rasyid Jamil Copyright (c) 2026 Agief Julio Pratama, Muhammad Khalil Ar Rasyid Jamil http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-30 2026-06-30 13 1 103 110 10.33084/daun.v13i1.12914 PENGARUH PERBEDAAN SISTEM TANAM PADI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL VARIETAS MEKONGGA https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun/article/view/12894 <p>Padi merupakan komoditas unggulan nasional karena konsumsi utama penduduk Indonesia adalah beras. Varietas unggul padi di Indonesia sudah banyak berkembang dengan produktivitas tinggi, namun penggunaan sistem penanaman belum efektif digunakan oleh petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan sistem tanam padi terhadap pertumbuhan dan hasil varietas Mekongga. Penelitian dilaksanakan di sawah Desa Tawengan, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali.&nbsp; Penelitian dilaksanakan dengan rancangan acak kelompok (RAK) satu faktor yang terdiri atas lima perlakuan sistem tanam, yaitu jajar legowo 2:1, jajar legowo 3:1, jajar legowo 4:1, Hazton, dan System of Rice Intensification (SRI). Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan total, serta produktivitas padi. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan pada taraf kepercayaan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan sistem tanam berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil padi varietas Mekongga. Sistem tanam jajar legowo 4:1 menunjukkan pertumbuhan terbaik yang ditunjukkan oleh tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan total , dan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanam lainnya. Produktivitas padi varietas Mekongga dengan sistem tanam jajar legowo adalah 8,47 ton ha<sup>-1</sup> GKP (gabah kering produksi). Dengan demikian, sistem tanam jajar legowo 4:1 dapat direkomendasikan sebagai sistem tanam yang efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil padi varietas Mekongga.</p> Anditya Gilang Rizky Pradana Vidi Mercyana Copyright (c) 2026 Anditya Gilang Rizky Pradana, Vidi Mercyana http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-30 2026-06-30 13 1 48 53 10.33084/daun.v13i1.12894 Viabilitas Benih Cabai Rawit Tiyung Tanjung pada Metode Ekstraksi dengan Perendaman Natrium Hidroksida https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun/article/view/13135 <p>Cabai rawit Tiyung Tanjung (<em>Capsicum frutescens </em>L.) merupakan varietas lokal khas Kalimantan Selatan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpotensi dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Salah satu kendala dalam pengembangan varietas ini adalah rendahnya kualitas benih. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perendaman benih dalam larutan NaOH terhadap viabilitas benih cabai rawit Tiyung Tanjung serta mengetahui konsentrasi yang memberikan respons terbaik. Penelitian ini dilaksanakan pada juni hingga agustus 2025 di Laboratorium Produksi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor berupa konsentrasi NaOH 0% (kontrol), 1%, 2% dan 3% yang di ulang sebanyak lima kali. Variabel yang diamati meliputi daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, kecepatan tumbuh, panjang plumula dan panjang radikula. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan perendaman menggunakan larutan NaOH tidak memberikan pengaruh nyata terhadap daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum dan kecepatan tumbuh benih. Namun perlakuan tersebut berpengaruh terhadap panjang plumula dan panjang radikula kecambah. Semakin tinggi konsentrasi NaOH yang diberikan, semakin besar kecenderungan penurunan viabilitas benih akibat gangguan fisiologis dan kerusakan embrio yang dipicu oleh sifat basa kuat larutan.</p> <p>Kata kunci: Cabai Tiyung Tanjung, NaOH, Viabilitas benih.</p> <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p><em>Tiyung Tanjung cayenne pepper </em>(<em>Capsicum frustescens </em>L.)<em> is a local variety typical of south kalimantan that has high economic value and has the potential to be developed to meet the needs of community consumption. One of the obstacles in the development of this variety is the low quality of the seeds. This study was conducted to determine the effect of seed soaking in NaOH solution on the viability of Tiyung Tanjung cayenne pepper seeds and to determine the best response. This study was conducted from june to august 2025 at the Agroecotechnology Production Laboratory, Faculty of Agriculture, Lambung Mangkurat University. The method used was a Completely Randomized Design (CRD with one factor in the form of NaOH concentrations of 0% (control), 1%, 2% and 3% which were repeated five times. The variables observed included germination power, maximum growth potential, growth rate, plumule length and radicle length. The results showed that the soaking treatment using NaOH solution did not have a significant effect on germination power, maximum growth potential and seed growth rate. However, the treatment affected the length of the plumule and radicle length of the sprouts. The higher the NaOH concentration applied, the greater the tendency for seed viability to decrease due to physiological disturbances and embryo damage triggered by the solution’s strong alkaline nature. </em></p> <p><em>Keywords: Tiyung Tanjung Chili, NaOH, Seed Viability</em></p> Angela Venta Yosefhine Hikma Ellya Rila Rahma Apriani Raihani Wahdah Gani Jawak Copyright (c) 2026 Angela Venta Yosefhine, Hikma Ellya, Rila Rahma Apriani, Raihani Wahdah, Gani Jawak http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-30 2026-06-30 13 1 71 78 10.33084/daun.v13i1.13135 Pengaruh Pupuk Majemuk Mikro dan N, P, K terhadap Mn Total Tanah, Pertumbuhan pada Inceptisols https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun/article/view/13024 <p>Tomat (Solanum lycopersicum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura penting yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun produktivitasnya masih dipengaruhi oleh rendahnya kesuburan tanah dan ketidakseimbangan unsur hara, terutama pada tanah InceptisolsPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk majemuk mikro yang dikombinasikan dengan pupuk N, P, K terhadap Mn total tanah dan pertumbuhan tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) pada Inceptisols asal Jatinangor. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan enam perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan terdiri atas kontrol, NPK rekomendasi, kombinasi pupuk majemuk mikro dengan NPK rekomendasi, serta kombinasi pupuk majemuk mikro dengan ¾ dosis NPK rekomendasi. Pengamatan meliputi Mn total tanah, tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, dan jumlah cabang. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk majemuk mikro dan N, P, K berpengaruh nyata terhadap Mn total tanah dan pertumbuhan tanaman tomat. Perlakuan E (1½ pupuk majemuk mikro + NPK rekomendasi) menghasilkan Mn total tanah tertinggi sebesar 2,010 ppm. Sementara itu, perlakuan F (1 pupuk majemuk mikro + ¾ NPK rekomendasi) memberikan hasil pertumbuhan terbaik, meliputi tinggi tanaman 100,51 cm, diameter batang 1,51 cm, jumlah daun 45,04 helai, dan jumlah cabang 22,13 cabang pada umur 49 HST. Kombinasi pupuk majemuk mikro dengan pengurangan dosis N, P, K hingga ¾ rekomendasi mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan unsur hara sehingga mendukung pertumbuhan vegetatif tanaman tomat secara optimal pada tanah Inceptisols asal Jatinangor.</p> Riky Risman Emma Trinurani Sofyan Rina Devnita Copyright (c) 2026 Riky Risman, Emma Trinurani Sofyan, Rina Devnita http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-30 2026-06-30 13 1 62 70 10.33084/daun.v13i1.13024 PENGARUH BERBAGAI JENIS MULSA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN EDAMAME (GLYCINE MAX L.) PADA SISTEM BUDIDAYA ORGANIK https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun/article/view/12907 <p>Penelitian ini mengevaluasi efektivitas berbagai jenis mulsa terhadap pertumbuhan dan hasil edamame (<em>Glycine max </em>L.) dalam sistem budidaya organik. Percobaan dilakukan dari April hingga Juni 2025 menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan empat perlakuan: tanpa mulsa (kontrol), mulsa daun <em>Gynura procumbens</em>, mulsa batang pisang, dan mulsa plastik, masing-masing direplikasi empat kali. Parameter pertumbuhan (tinggi tanaman dan jumlah daun) dan komponen hasil (jumlah polong, polong terisi, berat polong, dan biomassa) diukur dan dianalisis menggunakan ANOVA diikuti dengan LSD pada 5%. Hasil menunjukkan bahwa penerapan mulsa secara signifikan meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil dibandingkan dengan kontrol. Mulsa <em>Gynura procumbens</em> menunjukkan kinerja terbaik, meningkatkan tinggi tanaman (26,90 cm), jumlah daun (13,60 daun), polong terisi (11,50 polong), dan berat polong (39,00 g tanaman⁻¹), masing-masing meningkat sebesar 45,4%, 29,5%, 103,5%, dan 161,7% dibandingkan kontrol. Mulsa organik lebih unggul dibandingkan mulsa plastik, kemungkinan karena kontribusinya yang tambahan terhadap kesuburan tanah melalui proses dekomposisi. Secara keseluruhan, mulsa organik yang bersumber secara lokal, terutama <em>Gynura procumbens</em>, merupakan strategi yang berkelanjutan dan efektif untuk meningkatkan produktivitas edamame dalam sistem pertanian organik.</p> Dulbari Dulbari Priyadi Priyadi Destieka Ahyuni Raeli Dwi Marliyana Copyright (c) 2026 dulbari dulbari, Priyadi, Destieka Ahyuni, Raeli Dwi Marliyana http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-30 2026-06-30 13 1 54 61 10.33084/daun.v13i1.12907 PENGARUH MULSA DAN JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI EDAMAME (Glycine max L.) https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun/article/view/12891 <p>Kedelai edamame (Glycine max L.) merupakan komoditas bernilai tinggi yang produktivitasnya dipengaruhi oleh pengelolaan lingkungan dan populasi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis mulsa dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil panen kedelai edamame. Penelitian ini dilakukan di Politeknik Negeri Lampung menggunakan rancangan acak kelompok faktorial (RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah jenis mulsa (tanpa mulsa, mulsa jerami, dan mulsa plastik), sedangkan faktor kedua adalah jarak tanam (30x10 cm, 30x15 cm, 30x20 cm, dan 30x25 cm). Hasil analisis varians menunjukkan bahwa jenis mulsa tidak berpengaruh signifikan terhadap semua variabel, sedangkan jarak tanam berpengaruh sangat signifikan terhadap jumlah polong, berat polong berisi, dan berat total polong. Interaksi antara kedua faktor tersebut tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Jarak tanam 30x20 cm (J3) menghasilkan pertumbuhan dan jumlah polong yang paling optimal. Sebaliknya, jarak tanam yang terlalu dekat (30x10 cm) mengurangi produktivitas karena persaingan antar tanaman yang tinggi. Secara agronomis, kombinasi mulsa jerami dan jarak tanam 30x20 cm (M1J3) memberikan hasil terbaik, dengan hasil panen mencapai 20,76 ton/ha. Meskipun mulsa tidak memiliki pengaruh yang signifikan secara statistik, penggunaan mulsa jerami cenderung meningkatkan hasil panen secara numerik dengan menjaga kelembapan tanah dan menekan fluktuasi suhu. Studi ini merekomendasikan penggunaan jarak tanam 30x20 cm sebagai standar optimal untuk meningkatkan hasil panen kedelai edamame.</p> Subarjo Subarjo Destieka Ahyuni Dulbari Dulbari Copyright (c) 2026 Subarjo Subarjo, Destieka Ahyuni, Dulbari Dulbari http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-30 2026-06-30 13 1 40 47 10.33084/daun.v13i1.12891 Kearifan Lokal Sebagai Sistem Ketahanan Ekonomi Berbasis Hutan Berkelanjutan: Studi Kasus Masyarakat Adat Suku Baduy https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun/article/view/12604 <p>Kearifan lokal merupakan karaterisitik masyarakat di suatu daerah yang harus dijaga sebagai identitas sekaligus sebagai filter bagi berbagai aspek kebudayaan luar yang tidak sesuai. Penelitian ini mengkaji ketahanan ekonomi masyarakat adat suku Baduy berbasis hutan secara keberlanjutan dengan kearifan lokal. Modernisasi saat ini menjadikan budaya kearifan lokal hampir tidak dijalankan dengan baik khususnya pada pengelolaan sumber daya alam. Pada penelitian ini menjelaskan, dengan kearifan lokal praktik pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjuta dapat mempertahankan perekonomian masyarakat adat suku Baduy yang masih mempertahankan adat istiadat dari nenek moyang mereka. <strong>Metode:</strong> Data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan wawancara dengan beberpa masyarakat adat suku Baduy di Banten. Analisis data menggunakan pendekatan analisis deskriptif. <strong>Temuan:</strong> Partisipasi masyarakat sangat berpengaruh dalam menjaga ekosistem alam. Masyarakat adat suku Baduy memiliki aturan dan budaya yang telah ada sejak zaman leluhur mereka yang dipercaya menjadi pedoman kehidupan hingga cara mereka memperlakukan alam dengan baik, hingga saat ini masih secara konsisten dijalankan dan dilestarikan. Dari aturan tersebut membuat keseimbangan ekologi, ekonomi dan sosial ditengan gempuran globalisasi dan moderenisasi. Kearifan lokal yang diterapkan juga membuktikan bahwa mereka mampu mempertahankan lingkungan secara berkelanjutan dengan perekonomian yang sederhana dan sosial yang baik. Perlawanan mereka terhadap modernisasi dan industrialisasi bukanlah penolakan terhadap kemajuan, melainkan upaya sadar untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam sesuai dengan nilai-nilai tradisional. <strong>Kesimpulan:</strong> Kearifan lokal masyarakat adat suku Baduy merepresentasikan suatu sistem sosial-ekologis yang terintegrasi, yang mana nilai-nilai budaya, spiritual, dan ekonomi saling menopang dalam membentuk keharmonisan antara manusia dan alam hingga menciptakan ketahanan ekonomi berbasis hutan yang berkelanjutan. <strong>Kebaharuan artikel:</strong> selain menambah referensi pembaca, secara pembahasan tidak hanya membahas praktik kearifan lokal saja, tetapi juga sistem perekonomian tradisional yang dijalankan oleh masyarakat adat suku Baduy yang mampu dipertahankan hingga saat ini dan juga menopang perekonomian masyarakat lokal.</p> Fachrul Gunawan Copyright (c) 2026 Fachrul Gunawan http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-30 2026-06-30 13 1 111 121 10.33084/daun.v13i1.12604 EFEK FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA DAN BIOCHAR DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN KUSAMBI PADA LAHAN SEMI-ARID https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun/article/view/12661 <p>Lahan semi-arid di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, banyak memiliki keterbatasan yakni rendahnya ketersediaan air, unsur hara, dan aktivitas mikroorganisme tanah yang berdampak pada rendahnya pertumbuhan tanaman kusambi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian fungi mikoriza arbuskula dan biochar terhadap pertumbuhan tanaman kusambi (<em>Schleichera oleosa</em>) pada kondisi lahan kering. Penelitian dilakukan selama delapan bulan dengan menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor, yaitu fungi mikoriza arbuskula (0, 25, dan 50 g per tanaman) dan biochar (0, 10, dan 20 ton per hektar) dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, berat kering tanaman, dan panjang akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pemberian fungi mikoriza arbuskula dan biochar secara nyata meningkatkan seluruh parameter pertumbuhan tanaman dibandingkan tanpa perlakuan. Kombinasi perlakuan dosis tertinggi menghasilkan pertumbuhan terbaik dengan tinggi tanaman mencapai 43,63 cm, jumlah daun 42,33 helai, diameter batang 10,76 mm, berat kering 35,40 g, dan panjang akar 43,33 cm. Peningkatan pertumbuhan tersebut terjadi akibat perbaikan sifat tanah, peningkatan ketersediaan hara, serta efisiensi penyerapan air oleh tanaman. Dengan demikian, penggunaan fungi mikoriza arbuskula dan biochar secara terpadu efektif dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman kusambi pada lahan semi-arid dan berpotensi sebagai strategi pengelolaan lahan kering yang berkelanjutan.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> Magdalena Pareira Kristina Irnasari Naikofi Copyright (c) 2026 Magdalena Pareira, Kristina Irnasari Naikofi http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-30 2026-06-30 13 1 122 127 10.33084/daun.v13i1.12661 Respon Pertumbuhan dan Produksi Jagung (Zea mays L.) Varietas NK 212 terhadap Intensitas Pemangkasan Daun di Lahan Sawah https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun/article/view/12184 <p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemangkasan daun terhadap pertumbuhan dan hasil panen varietas jagung NK 212 yang ditanam di sawah, dengan mempertimbangkan tantangan kelembaban tinggi di daerah tersebut. Penelitian ini dilakukan di Desa Patangnga, Kecamatan Tellu Siattinge, Kabupaten Bone, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat tingkat perlakuan: tanpa pemangkasan daun (P </span></span><sub><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">0</span></span></sub><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> ), pemangkasan daun 25% (P </span></span><sub><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">1</span></span></sub><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> ), 50% (P </span></span><sub><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">2</span></span></sub><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> ), dan 75% (P </span></span><sub><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">3</span></span></sub><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> ) dari daun bagian bawah tongkol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemangkasan daun secara signifikan mempengaruhi parameter pertumbuhan (jumlah daun dan indeks luas daun) dan komponen hasil panen (panjang tongkol, diameter, berat, dan hasil per hektar). Perlakuan pemangkasan 50% (P </span></span><sub><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">2</span></span></sub><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> ) menghasilkan hasil terbaik dengan produktivitas mencapai 8,58 ton/ha. Sebaliknya, tanpa pemangkasan (P </span></span><sub><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">0</span></span></sub><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> ) dan pemangkasan berat (75%) menunjukkan hasil yang kurang optimal. Disimpulkan bahwa pemangkasan daun 50% merupakan strategi agronomi yang paling efektif untuk meningkatkan produktivitas jagung NK 212 di ekosistem sawah, karena mampu menyeimbangkan penerimaan cahaya dan alokasi fotosintat.</span></span></p> Nurlinda Nurlinda Andi Cakra Yusuf Sulkifli Sulkifli Copyright (c) 2026 Nurlinda Nurlinda, Andi Cakra Yusuf, Sulkifli Sulkifli http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-30 2026-06-30 13 1 128 133 10.33084/daun.v13i1.12184 The Effect of Alginate Concentration and 8 kHz Audiosonic Treatment on the Viability of Arbuscular Mycorrhizal Fungi in Biochar Pellets https://journal.umpr.ac.id/index.php/daun/article/view/13366 <p><em>The effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) as a biofertilizer in enhancing plant growth is influenced by environmental factors that can inhibit germination and reduce spore viability</em><em>.</em><em> Encapsulation using alginate as a coating material, combined with audiosonic stimulation, may improve spore protection and physiological activity. This study was conducted from October 2025 to February 2026 at the Soil Biology Laboratory, Department of Soil Science and Land Resources, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran, to evaluate the interaction between alginate concentration and audiosonic treatment on AMF spore germination and viability. The experiment was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) with six treatments and three replicates. Alginate concentrations consisted of 1%, 2%, and 3%, while the audiosonic treatments included no audiosonic exposure and exposure to 8 kHz at a duration</em> <em>of 8 hours per day. The results showed a significant interaction between alginate concentration and audiosonic treatment on AMF viability. The 2% alginate concentration resulted in the greatest spore viability. </em></p> <p><em>Keywords: </em><em>Audiosonic, Alginate encapsulated, Arbuscula Mycorrhizal Fungi (AMF), Biochar pellets</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> Salsabila Salsabila Anne Nurbaity Vira Kusuma Dewi Betty Natalie Fitriatin Pujawati Suryatmana Mieke Rochimi Setiawati Copyright (c) 2026 Salsabila Salsabila, Anne Nurbaity, Vira Kusuma Dewi, Betty Natalie Fitriatin, Pujawati Suryatmana, Mieke Rochimi Setiawati http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-30 2026-06-30 13 1 134 137 10.33084/daun.v13i1.13366