https://journal.umpr.ac.id/index.php/jsm/issue/feedJurnal Surya Medika (JSM)2026-10-10T19:13:56+07:00Rika Arfiana Safitri[email protected]Open Journal Systems<p style="text-align: justify;"><strong>Title: </strong>Jurnal Surya Medika (JSM)<br /><strong>Previous title:</strong> JSM (Jurnal Surya Medika)<br /><strong>ISSN: </strong><a href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/2655-2051">2655-2051</a> (Online); <a href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/2460-7266">2460-7266</a> (Print)<br /><strong>Subject:</strong> Health Sciences<br /><strong>Frequency: </strong>Every four months (3 issues per year in April, August, and December) onward May 2022<br /><strong>Indexed at: </strong><a href="https://sinta.kemdikbud.go.id/journals/profile/4079">SINTA 4</a>,<strong> </strong><a href="https://app.dimensions.ai/discover/publication?search_mode=content&and_facet_source_title=jour.1365042">Dimensions</a>, <a href="https://search.crossref.org/?q=2655-2051">Crossref</a>, <a href="https://scholar.google.com/citations?hl=en&user=zRvCVmkAAAAJ">Google Scholar</a>, <a href="https://garuda.ristekbrin.go.id/journal/view/10623">GARUDA</a>, and more<br /><strong>DOI: </strong><a href="https://doi.org/10.33084/jsm">10.33084/jsm</a><br /><strong>Archive preservation: </strong><a href="https://onesearch.id/Search/Results?filter%5b%5d=repoId:IOS5984">Indonesia OneSearch</a>,<strong> </strong><a href="http://garuda.ristekdikti.go.id/journal/view/10623">GARUDA</a><br /><strong>Publisher: </strong><a href="https://lp2m.umpr.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">Institute For Research and Community Services</a> <a href="http://umpr.ac.id" target="_blank" rel="noopener">Universitas Muhammadiyah Palangkaraya</a><br /><strong>Editor in Chief: </strong><a href="https://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=57210696950">Rika Arfiana Safitri</a></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Jurnal Surya Medika (JSM)</strong> (<em>J Surya Medika</em>, ISSN: <a href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/2655-2051"><em>2655-2051</em></a> (Online); <a href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/2460-7266"><em>2460-7266</em></a> (Print)) is a national scientific journal managed by the <strong><a title="Faculty of Health Science" href="https://fik.umpr.ac.id/">Faculty of Health Science</a> <a href="http://umpr.ac.id" target="_blank" rel="noopener">Universitas Muhammadiyah Palangkaraya</a></strong> and published three times a year (in April, August, and December) onward May 2022 by <strong><a href="https://lp2m.umpr.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">Institute for Research and Community Services</a> <a href="http://umpr.ac.id" target="_blank" rel="noopener">Universitas Muhammadiyah Palangkaraya</a></strong>. <strong>Jurnal Surya Medika (JSM)</strong> accepts scientific articles in the form of <strong>original research articles</strong> and <strong>reviews</strong> from anyone without any discrimination, as long as they submit articles that meet scientific principles.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Jurnal Surya Medika (JSM)</strong> publishes various scientific articles covering <strong>Health Sciences</strong>, in the field but not limited to <strong>Pharmacology-Toxicology, Pharmacognosy-Phytochemistry, Pharmaceutical, Analytical Pharmacy-Medicinal Chemistry, Natural Product Development, Clinical-Community Pharmacy, Management Pharmacy, Medical Laboratory Technology, Clinical Chemistry, Microbiology-Parasitology, Hematology,</strong> and other <strong>General Medical Topics</strong>.</p> <p style="text-align: justify;"><a href="https://sinta.kemdikbud.go.id/journals/profile/4079"><img src="https://journal.umpr.ac.id/index.php/jsm/management/settings/context//public/site/images/adminjournal/SINTA3.png" width="84" height="30" /></a></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Jurnal Surya Medika (JSM)</strong> is accredited at <strong>"<a href="https://sinta.kemdikbud.go.id/journals/profile/4079">SINTA 4</a>"</strong> until August 2025 by the Minister of Research and Technology/National Research and Innovation Agency, Indonesia.</p>https://journal.umpr.ac.id/index.php/jsm/article/view/14353Karakteristik Pasien Spondylolisthesis Berdasarkan Hasil Rontgen Lumbosakral Di Rsud Waled Tahun 2024-20252026-10-10T19:13:56+07:00Moch. Hafizd Zidny Musafik[email protected]Nunik Royyani[email protected]Hendry Gunawan[email protected]<table> <tbody> <tr> <td width="421"> <p>Latar Belakang: Spondylolisthesis merupakan pergeseran segmen vertebra abnormal yang menjadi salah satu penyebab masalah kesehatan global seperti Low Back Pain (LBP). Prevalensi global kondisi ini berkisar antara 4-8%, namun data mengenai karakteristik pasien di Indonesia masih terbatas. Tujuan: untuk mengetahui karakteristik pasien spondylolisthesis berdasarkan hasil rontgen lumbosakral di RSUD Waled Tahun 2024-2025. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan desain cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling yang diperoleh dari data sekunder berupa rekam medis dan hasil rontgen pasien di RSUD Waled, Cirebon. Total sampel yang dianalisis berjumlah 62 pasien (N=62). Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien spondylolisthesis berada pada kelompok usia 41-60 tahun atau dewasa tua (54,8%), berjenis kelamin perempuan (64,5%), dan tidak memiliki riwayat Diabetes Melitus (93,5%). Berdasarkan gambaran radiologis, lokasi pergeseran tulang paling banyak ditemukan pada vertebra L5 (48,4%), dengan arah pergeseran ke posterior atau retrolisthesis (64,5%). Sebagian besar pasien mengalami tingkat keparahan slippage derajat rendah, yang didominasi oleh Derajat I (80,6%) dan Derajat II (19,4%). Simpulan: Karakteristik pasien spondylolisthesis di RSUD Waled Tahun 2024-2025 didominasi oleh kelompok usia dewasa tua (41-60 tahun), berjenis kelamin perempuan, tanpa riwayat DM. Gambaran radiologis terbanyak berlokasi di L5, dengan arah pergeseran posterior (retrolisthesis), dan memiliki derajat keparahan rendah (Derajat I dan II).</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-10-10T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Moch. Hafizd Zidny Musafik, Nunik Royyani, Hendry Gunawanhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/jsm/article/view/14182Gambaran Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis Di Rumah Sakit Daerah Gunung Jati Cirebon2026-09-15T09:45:36+07:00Firyal Amirah Hasna[email protected]Siti Maria Ulfah[email protected]Ade Yusuf[email protected]<p>Latar Belakang: Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan penyakit dengan penurunan fungsi ginjal yang bersifat progresif dan ireversibel sehingga memerlukan terapi hemodialisis. Terapi ini dapat memengaruhi kondisi fisik, psikologis, dan sosial pasien yang berdampak pada kualitas hidup. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSD Gunung Jati Cirebon berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan lama menjalani hemodialisis. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 130 responden. Kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner Kidney Disease Quality of Life Short Form-36 (KDQOL-SF 36), sedangkan data karakteristik diperoleh dari rekam medis. Analisis data dilakukan secara univariat. Responden berusia 46–55 tahun (38,5%), berjenis kelamin laki-laki (51,5%), berpendidikan SD (44,6%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (43,8%), dan telah menjalani hemodialisis selama 49–60 bulan (28,5%). Hasil: Sebagian besar responden memiliki kualitas hidup kategori sedang (52,3%), diikuti kategori baik (36,2%), sangat baik (7,7%), dan buruk (3,8%), sedangkan tidak terdapat responden dengan kualitas hidup kategori sempurna. Simpulan: Gambaran kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSD Gunung Jati Cirebon didominasi oleh kategori sedang, dengan mayoritas responden merupakan kelompok usia lansia awal, berjenis kelamin laki-laki, berpendidikan SD, bekerja sebagai ibu rumah tangga, dan telah menjalani hemodialisis selama 49–60 bulan.</p>2026-10-10T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Firyal Amirah Hasna, Siti Maria Ulfah, Ade Yusufhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/jsm/article/view/14090Hubungan Tingkat Stres, Lingkungan Sosial, Dan Aksesibilitas Rokok Dengan Perilaku Merokok Pada Remaja Di Sma Negeri 1 Kapetakan2026-09-09T11:14:46+07:00Bima Wiguna[email protected]Shofa Nur Fauzah[email protected]Eni Suhaeni[email protected]Uswatun Khasanah[email protected]Ade Yusuf[email protected]<p>atar Belakang: Perilaku merokok remaja masih menjadi permasalahan kesehatan di indonesia, berdasarkan Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan 7,4% dan Mayoritas perilaku Merokok pada usia remaja. Penelitian menjelaskan perilaku merokok dipengaruhi oleh beberapa faktor di antara tingkat stres, lingkungan sosial yang mendukung pada remaja merokok, dan kemudahan mendapatkan rokok bisa mendorong remaja untuk merokok. Tujuan: mengetahui hubungan tingkat stres, lingkungan sosial dan aksesibilitas rokok dengan perilaku merokok pada remaja. Metode: Studi ini menggunakan kuantitatif analitik observasional melalui pendekatan Cross sectional dengan menggunakan rumus total sampling di dapatkan 75 responden. Penelitian dilaksanakan pada bulan maret-mei dan tempat pengambilan data di SMA Negeri 1 Kapetakan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, kemudian di analisis secara univariat dan bivariat dengan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Berdasarkan analisis univariat pada 75 responden, mayoritas memiliki tingkat stres sedang (58,7%), lingkungan sosial tidak mendukung (85,3%), aksesibilitas rokok rendah (70,7%). Hasil Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat stres dengan perilaku merokok (p 0,092). Sebaliknya, terdapat hubungan yang bermakna antara lingkungan sosial dengan perilaku merokok (p 0,001) serta antara aksesibilitas rokok dengan perilaku merokok (p 0,001), arah hubungan positif. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara lingkungan sosial dan aksesibilitas rokok dengan perilaku merokok pada remaja di SMA Negeri 1 Kapetakan, sedangkan tingkat stres tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Oleh karena itu, upaya pencegahan perilaku merokok perlu difokuskan pada penciptaan lingkungan sosial yang tidak mendukung perilaku merokok serta pembatasan akses remaja terhadap rokok. </p>2026-10-03T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Bima Wiguna, Shofa Nur Fauzah, Eni Suhaeni, Uswatun Khasanah, Ade Yusufhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/jsm/article/view/13547Studi Penggunaan Obat Pada Pasien Sindrom Ovarium Polikistik (Pcos) Di Rsud Haji Provinsi Jawa Timur2026-08-31T12:30:08+07:00Shella Anggraini[email protected]Asri Wido Mukti[email protected]Novamei Indriani[email protected]Annisa Rosita Hafiizh[email protected]Rosy Nurlita Hapsari[email protected]<p><em>Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) is the most common endocrine-metabolic disorder among women of reproductive age, yet comprehensive data on its drug utilization pattern in Indonesian regional hospitals remain limited, particularly in East Java. This study aimed to describe the drug utilization pattern in PCOS patients at RSUD Haji East Java Province during 2020-2025. A descriptive retrospective design was applied using total sampling of 57 outpatient medical records meeting the inclusion criteria, analyzed descriptively using Microsoft Excel. Results showed that monotherapy was the predominant treatment pattern (70.2%), with hormonal therapy being the most frequently used drug class (78.9%). The most commonly prescribed drugs were norethisterone 5 mg (43.9%) and Cycloprogynova (40.4%), while metformin was used in 14.0% of patients and clomiphene citrate (Diphten) as an ovulation-inducing agent in 12.3% of patients. Doses and frequencies were mostly consistent with standard literature, with two frequency variations found for Diane 35 and Microgynon, reflecting the prescribing physician's clinical judgment. Documented adverse effects were found in only one patient (1.8%), consisting of dizziness potentially associated with metformin. All patients (100%) showed clinical improvement in the form of menstrual return within 2 to 6 days after therapy. It is concluded that PCOS drug utilization at RSUD Haji is dominated by hormonal therapy with favorable clinical response, although the completeness of medical record documentation should be improved to support comprehensive therapy monitoring.</em></p>2026-08-31T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Shella Anggraini, Asri Wido Mukti, Novamei Indriani, Rosy Nurlita Hapsarihttps://journal.umpr.ac.id/index.php/jsm/article/view/11200Analisis Kadar Obat Setirizin Hidroklorida Sediaan Sirup Terhadap Suhu dan Lama Penyimpanan dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis2026-08-29T16:10:15+07:00Andini Roshida Amaliatama[email protected]Rastria Meilanda[email protected]Aprilya Sri Rachmayanti[email protected]<p>Setirizin Hidroklorida merupakan antihistamin generasi kedua yang banyak digunakan dalam terapi alergi dan tersedia dalam bentuk sediaan sirup. Stabilitas sediaan cair seperti sirup relatif lebih rendah dibandingkan sediaan padat, sehingga perlu dilakukan evaluasi terhadap pengaruh suhu dan lama penyimpanan terhadap kadar obat untuk menentukan <em>Beyond Use Date</em> (BUD). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh suhu dan lama penyimpanan terhadap kadar cetirizine hydrochloride sirup menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Sampel sirup disimpan pada dua kondisi, yaitu suhu ruang (15–30 °C) dan suhu sejuk (8–15 °C) selama 35 hari. Penetapan kadar dilakukan secara berkala (hari ke-0, 7, 14, 21, 28, dan 35) menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 231 nm. Validasi metode mencakup uji linearitas, LOD, LOQ, akurasi, dan presisi. Data kadar dibandingkan dengan standar Farmakope Indonesia (90–110%). Panjang gelombang maksimum cetirizine hydrochloride diperoleh pada 231 nm dengan persamaan regresi y = 0,0482x – 0,0299 (R² = 0,9979). Nilai LOD sebesar 12,33 ppm dan LOQ sebesar 37,34 ppm. Uji akurasi menunjukkan % recovery sebesar 100,8%, 99,3%, dan 99,7%, sedangkan presisi menunjukkan %RSD = 1,26%. Penyimpanan pada suhu ruang mempertahankan kadar obat dalam rentang farmakope hingga hari ke-35 dengan nilai T90 = 44 hari. Sebaliknya, penyimpanan pada suhu sejuk menunjukkan penurunan kadar lebih cepat dengan nilai T90 = 28 hari. Sampel lebih stabil pada suhu ruang dengan BUD lebih panjang, sehingga penyimpanan pada suhu tersebut direkomendasikan.</p>2026-09-09T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Andini Roshida Amaliatama, Rastria Meilanda, Aprilya Sri Rachmayantihttps://journal.umpr.ac.id/index.php/jsm/article/view/9167FAKTOR RISIKO NYERI PERGELANGAN TANGAN PADA PEKERJAAN BERULANG2026-08-29T16:08:57+07:00Rizal Dona Pradana P [email protected]Ulfa Nurullita[email protected]Ratih Sari Wardani[email protected]Wulandari Meikawati[email protected]<p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Nyeri pergelangan tangan merupakan gejala muskuloskeletal yang disebabkan oleh paparan faktor fisik, faktor neurologis atau sistemik secara terus menerus dalam kurun waktu lama. Pekerja <em>shuttlecock </em>berpotensi mengalami nyeri pergelangan tangan karena melakukan gerakan berulang dalam proses kerjanya. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan keluhan nyeri pada pergelangan tangan. Jenis penelitian adalah obsevasional analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Penelitian dilakukan pada pekerja <em>home</em> <em>industr</em><em>y shuttlecock </em>di Kota Tegal Jawa Tengah, dengan populasi sebanyak 35 orang dan seluruhnya diteliti. Variabel bebas yang dianalisis adalah usia, jenis kelamin, masa kerja, status gizi, jumlah gerakan berulang dan variabel terikat adalah nyeri pergelangan tangan. Pengumpulan data variabel usia, jenis kelamin dan masa kerja dengan wawancara sedangkan status gizi dihitung dengan indeks masa tubuh melalui pengukuran berat dan tinggi badan menggunakan timbangan digital dan microtoise. Frekuensi gerakan berulang dilakukan pengamatan dengan bantuan stopwatch. Penilaian nyeri pergelangan tangan menggunakan kuesioner <em>Patient Rated Wrist Evaluation. </em>Analisis data menggunakan uji <em>chi square </em>dengan kemaknaan 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa 57,1% responden mengalami nyeri pergelangan tangan kanan. Sebanyak 65,7% berjenis kelamin perempuan, 51,4% berusia 40 tahun, 48,6% memiliki status gizi normal, 82,9% memiliki masa kerja katagori lama, dan 54,3% mempunyai gerakan berulang kategori tinggi. Uji <em>chi-square </em>jenis kelamin (p= 0,203 ), usia (p= 0,132), status gizi (p= 0,448), masa kerja (p= 0,004)<em>, </em>gerakan berulang (p= 0,003). Dari penelitian ini disimpulkan bahwa keluhan nyeri pergelangan tangan disebabkan karena faktor pekerjaan berupa gerakan berulang secara terus menerus dalam kurun waktu yang lama.</p>2026-09-29T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Rizal, Ulfa Nurullita, Ratih, Wulanhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/jsm/article/view/14302Pengaruh Aktivitas Treadmill Terhadap Tekanan Darah Sistolik Dan Diastolik Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon2026-09-25T12:00:38+07:00Syabillah Eka Septiani[email protected]Kati Sriwiyati[email protected]Irwan Meidi Leobis[email protected]Bambang Wibisono[email protected]Muhammad Suhanda[email protected]<p>Latar Belakang: Menurut WHO (2024), sekitar 1,4 miliar orang dewasa menderita hipertensi, yang mendorong meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga praktis di dalam rumah seperti treadmill. Tujuan: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan pra-eksperimental (one group pretest-posttest) ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aktivitas treadmill terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon. Metode: Menggunakan teknik purposive sampling, terpilih sampel dari populasi terjangkau sebanyak 166 mahasiswa angkatan 2022. Data primer dikumpulkan melalui pengukuran langsung menggunakan sfigmomanometer manual sebelum, selama, dan sesudah aktivitas treadmill dengan Protokol Bruce, lalu dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan darah sistolik dan diastolik mengalami fluktuasi pada setiap waktu pengukuran, di mana nilai cenderung menurun di awal aktivitas, meningkat seiring bertambahnya intensitas hingga mencapai puncak pada menit ke-8, dan menurun kembali setelah masa pendinginan selama 5 menit. Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna (p < 0,05) pada tekanan darah sistolik hanya ditemukan pada perbandingan menit ke-2 dengan menit ke-8 serta menit ke-2 dengan posttest. Simpulan: Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa aktivitas treadmill memberikan pengaruh terhadap perubahan tekanan darah sistolik dan diastolik sebagai respons fisiologis sistem kardiovaskular yang normal, dengan perubahan signifikan yang lebih tampak ketika aktivitas telah berlangsung lebih lama.</p>2026-10-10T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Syabillah Eka Septiani, Kati Sriwiyati, Irwan Meidi Leobis, Bambang Wibisono, Muhammad Suhandahttps://journal.umpr.ac.id/index.php/jsm/article/view/14122Hubungan Kualitas Tidur Terhadap Kadar Glukosa Darah Sewaktu dan Kadar Trigliserida pada Sopir Bus2026-09-03T14:31:57+07:00Yusma Pramadhani[email protected]Uli Masuliyah Indarwati[email protected]Retno Sulistiyowati[email protected]Cindy Rozza Bella[email protected]Supriyadi[email protected]Dita Pratiwi Kusuma Wardani[email protected]<p>Kualitas tidur merupakan salah satu faktor yang berperan dalam menjaga keseimbangan metabolisme tubuh, termasuk metabolisme glukosa dan lipid. Sopir bus merupakan kelompok pekerja yang berisiko mengalami gangguan kualitas tidur akibat jam kerja yang panjang dan waktu istirahat yang tidak teratur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas tidur terhadap kadar glukosa darah sewaktu dan kadar trigliserida pada sopir bus di Terminal Bulupitu Purwokerto. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik observasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 20 sopir bus yang dipilih menggunakan accidental sampling. Kualitas tidur diukur menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), sedangkan kadar glukosa darah sewaktu dan trigliserida diperiksa menggunakan metode fotometri enzimatik GOD-PAP dan GPO-PAP. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Hubungan kualitas tidur dengan kadar glukosa darah sewaktu dianalisis menggunakan Pearson Chi-Square, sedangkan hubungan kualitas tidur dengan kadar trigliserida dianalisis menggunakan Continuity Correction. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas tidur buruk (60,0%), kadar glukosa darah sewaktu normal (75,0%), dan kadar trigliserida normal (60,0%). Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dan kadar glukosa darah sewaktu (p=0,020), sedangkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dan kadar trigliserida (p=0,648). Terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dan kadar glukosa darah sewaktu, tetapi tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dan kadar trigliserida pada sopir bus di Terminal Bulupitu Purwokerto.</p>2026-09-09T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Yusma Pramadhani, Uli Masuliyah Indarwati, Retno Sulistiyowati, Cindy Rozza Bella, Supriyadi, Dita Pratiwi Kusuma Wardanihttps://journal.umpr.ac.id/index.php/jsm/article/view/13868Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Terjadinya Sarkopenia Menurut Asian Working Group For Sarcopenia (Awgs) 2025 Di Puskesmas Jalan Kembang Cirebon2026-09-09T11:13:09+07:00Putri Azliana[email protected]Ali Manfaluthi Ahmad[email protected]Bambang Wibisono[email protected]Kati Sriwiyati[email protected]Niklah Zaidah[email protected]<table> <tbody> <tr> <td width="421"> <p>Latar Belakang: Sarkopenia merupakan penurunan massa, kekuatan, dan fungsi otot yang berkaitan dengan proses penuaan. Asian Working Group for Sarcopenia (AWGS) 2025 menetapkan kriteria diagnosis sarkopenia yang penting untuk diterapkan pada populasi lanjut usia, terutama di tingkat pelayanan kesehatan primer. Aktivitas fisik yang rendah diidentifikasi sebagai faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap penurunan fungsi muskuloskeletal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan kejadian sarkopenia berdasarkan kriteria AWGS 2025 di Puskesmas Jalan Kembang, Cirebon. Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross-sectional dilakukan terhadap 98 responden lanjut usia. Data tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), sementara diagnosis sarkopenia ditentukan berdasarkan parameter massa otot (Appendicular Skeletal Muscle Mass/ASMI) dan kekuatan otot (Handgrip Strength) sesuai kriteria AWGS 2025. Analisis data menggunakan uji Chi-square. Hasil: Mayoritas responden memiliki tingkat aktivitas fisik kategori rendah (42,9%). Prevalensi sarkopenia ditemukan sebesar 42,9%. Hasil analisis statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan kejadian sarkopenia didapatkan nilai (p = < 0,001). Simpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat aktivitas fisik dengan kejadian sarkopenia. Semakin tinggi tingkat aktivitas fisik, semakin baik parameter massa otot dan kekuatan otot, sehingga menurunkan risiko sarkopenia. </p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-10-10T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Putri Azliana, Ali Manfaluthi Ahmad, Bambang Wibisono, Kati Sriwiyati, Niklah Zaidahhttps://journal.umpr.ac.id/index.php/jsm/article/view/11315Literatur Review: Peran Obat Bedaquiline dalam Terapi Tuberkulosis Resistan Obat Ganda (TB-MDR) terhadap Efektivitas dan Outcome Klinis2025-11-02T09:40:06+07:00Awallugina Awal[email protected]Mally Ghinan Sholih[email protected]Atika[email protected]<p>Tuberkulosis resistan obat ganda (TB-MDR) masih menjadi tantangan besar dalam pengendalian TB global dan nasional. Penggunaan regimen konvensional yang panjang dan berbasis suntikan sering kali menimbulkan efek samping berat serta tingkat keberhasilan yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau peran bedaquiline dalam meningkatkan efektivitas dan <em>outcome</em> klinis terapi TB-MDR berdasarkan literatur ilmiah terbaru. Metode yang digunakan adalah <em>narrative review</em> dengan menelusuri artikel ilmiah dari database PubMed dan Google Scholar selama 10 tahun terakhir (2015–2025). Hasil telaah menunjukkan bahwa regimen berbasis bedaquiline, seperti BPaL dan BPaLM, mampu meningkatkan tingkat kesembuhan hingga 75–85%, mempercepat konversi sputum menjadi negatif dalam 1–2 bulan, serta menurunkan angka mortalitas hingga 40–50% dibandingkan regimen konvensional. Selain itu, profil keamanannya lebih baik dengan efek samping yang umumnya ringan dan dapat dikendalikan. Dapat disimpulkan bahwa bedaquiline berperan penting sebagai komponen utama dalam regimen modern terapi TB-MDR karena mampu meningkatkan efektivitas pengobatan, memperpendek durasi terapi, serta memperbaiki <em>outcome</em> klinis pasien</p>2026-09-09T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Awallugina Awal, Mally Ghinan Sholih, Atikahttps://journal.umpr.ac.id/index.php/jsm/article/view/10011Characterization of Avocado (Persea americana Mill) Extract Nanoparticles on the Growth of Propionibacterium acne2026-08-17T12:16:21+07:00Chylen Setiyo Rini[email protected]Hafidho Nafilah[email protected]<p><em>Propionibacterium acne is one of the bacteria that causes acne. One of the plants that can be used as an alternative herbal medicine is avocado (Persea americana Mill). Nanoparticles are solid colloidal particles with diameter ranging from 1-1000 nm. One of the techniques commonly used in making extract nanoparticles is the ionic gelation technique whisch has benefits such as a simple process, the use of non-organic solvents, and ease of process control. This study aims to compare the effectiveness of avocado fruit extract maceration with extract nanoparticles (Persea americana Mill) on the growth of Propionibacterium acne. Avocado fruit were extracted by maceration and characterization nanoparticle with PSA (Particle Size Analyzer) test and FTIR (Fouerier Transform Infra Red). Finally measure the inhibition zone using the diffusion method. The results showed that the inhibitory power of avocado extract at a concentration of 25% was 16,50 mm, at a concentration of 50% was 13,26 mm, and at a concentration of 75% was 32,27 mm.</em> <em>Meanwhile, avocado extract nanoparticles at concentrations of 25%, 50%, and 75% produced the same inhibitory power, which was 6 mm. The results of statistical analysis using the Friedman nonparametric test showed a value (p<0.05) is 0.000 indicating a significant difference between the inhibition zone of avocado fruit extract and avocado fruit extract nanoparticles.</em></p>2026-09-09T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Chylen Setiyo Rini, Hafidho Nafilah