Perbandingan Hasil Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) dan Bakteri Tahan Asam (BTA) pada Pasien HIV Positif di Puskesmas Panarung, Palangkaraya
Main Article Content
Abstract
Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) tetap menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas global, terutama pada pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Diagnosis TB pada pasien HIV sering kali mengalami kendala akibat beban basil yang rendah dan gejala klinis yang tidak khas. WHO merekomendasikan penggunaan Tes Cepat Molekuler (TCM) seperti GeneXpert, namun keterbatasan distribusinya menyebabkan mikroskopis Bakteri Tahan Asam (BTA) masih banyak digunakan di layanan primer.
Tujuan: Menilai tingkat akurasi dan kesesuaian antara pemeriksaan TCM dan BTA dalam mendeteksi TB pada pasien HIV positif.
Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain potong lintang yang dilakukan pada 38 pasien HIV dengan gejala TB di Puskesmas Panarung, Palangkaraya, antara Desember 2024 hingga Juli 2025. Semua responden menjalani pemeriksaan TCM dan BTA secara bersamaan. Analisis data dilakukan menggunakan uji McNemar dan perhitungan nilai Kappa Cohen untuk menilai kesesuaian antar metode diagnosis.
Hasil: Seluruh kasus TB (100%) terdeteksi oleh TCM, sedangkan BTA hanya mendeteksi 35 dari 38 kasus (sensitivitas 92,1%; spesifisitas 100%). Nilai Kappa Cohen sebesar 0,78 menunjukkan kesesuaian substansial antara kedua metode. Namun demikian, TCM menunjukkan performa diagnostik yang lebih unggul, khususnya pada pasien dengan imunosupresi berat.
Kesimpulan: TCM lebih sensitif dibandingkan BTA dalam mendeteksi TB pada pasien HIV dan sebaiknya dijadikan metode utama dalam skrining TB pada kelompok risiko tinggi. Peningkatan akses terhadap TCM di layanan primer sangat penting dalam mendukung eliminasi TB tahun 2030.
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
All rights reserved. This publication may be reproduced, stored in a retrieval system, or transmitted in any form or by any means, electronic, mechanical, photocopying, recording.
References
World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2022. Geneva: WHO;2022.
Lawn SD, Zumla AI. Tuberculosis. Lancet. 2011;378(9785):57–72.
Pawlowski A, Jansson M, Sköld M, Rottenberg ME, Källenius G. Tuberculosis and HIV co-infection. PLoS Pathog. 2012;8(2):e1002464.
Getahun H, Gunneberg C, Granich R, Nunn P. HIV infection–associated tuberculosis: the epidemiology and the response. Clin Infect Dis. 2010;50(Suppl3):S201–7.
Corbett EL, Watt CJ, Walker N, Maher D, Williams BG, Raviglione MC, et al.
The growing burden of tuberculosis: global trends and interactions with the HIV epidemic. Arch Intern Med. 2003;163(9):1009–21.
Harries AD, Maher D, Graham S. TB/HIV: A Clinical Manual. 2nd ed. Geneva: WHO; 2004.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis 2020. Jakarta: Kemenkes RI; 2020.
Dinas Kesehatan Kota Bogor. Profil Kesehatan Kota Bogor 2021. Bogor: Dinkes Kota Bogor; 2021.
Dinas Kesehatan Kota Palangkaraya. Profil Kesehatan Kota Palangkaraya Tahun 2022. Palangkaraya: Dinkes Kota Palangkaraya; 2022.
Getahun H, Harrington M, O'Brien R, Nunn P. Diagnosis of smear-negative pulmonary tuberculosis in people with HIV infection or AIDS in resource- constrained settings: informing urgent policy changes. Lancet. 2007;369(9578):2042–9.
World Health Organization. WHO policy statement: automated real-time nucleic acid amplification technology for rapid and simultaneous detection of tuberculosis and rifampicin resistance: Xpert MTB/RIF system. Geneva: WHO; 2011.
Saktiawati AMI, Sturkenboom MGG, Subronto YW, Codlin AJ, Kusuma H, van der Werf MJ. Sensitivity and specificity of routine diagnostic work-up for tuberculosis in lung clinics in Yogyakarta, Indonesia: a cohort study. BMC Public Health. 2019;19(1):363.
McHugh ML. Interrater reliability: the kappa statistic. Biochem Med (Zagreb). 2012;22(3):276–82.
Sharma SK, Mohan A. Extrapulmonary tuberculosis. Indian J Med Res. 2004;120(4):316–53.
Boehme CC, Nabeta P, Hillemann D, Nicol MP, Shenai S, Krapp F, et al. Rapid
Molecular Detection of Tuberculosis and Rifampin Resistance. N Engl J Med.2010;363(11):1005–15.
Theron G, Peter J, van Zyl-Smit R, Mishra H, Streicher E, Murray S, et al.
Evaluation of the Xpert MTB/RIF assay for the diagnosis of pulmonary tuberculosis in a high HIV prevalence setting. Am J Respir Crit Care Med.2011;184(1):132–40.
Steingart KR, Ramsay A, Pai M. Optimizing sputum smear microscopy for the diagnosis of pulmonary tuberculosis. Expert Rev Anti Infect Ther.2007;5(3):327–31Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Strategi Nasional Eliminasi
Tuberkulosis 2020–2030. Jakarta: Direktorat Jenderal P2P, Kemenkes RI; 2020