Pelatihan Peningkatan Kualitas Produk Ramuan Tradisional Kabupaten Bangli, Bali Training for Improving the Quality of Traditional Herbal Products in Bangli Regency, Bali

Main Article Content

Tutik Sri Wahyuni
Retno Widyowati
Neny Purwitasari
Aty Widyawaruyanti
Achmad Fuad
Hadi Poerwono
Dewi Isadiartuti
Melanny Ika Sulistyowaty
Helmy Yusuf
Marcellino Rudyanto
Idha Kusumawati
Tri Widiandani
Dini Retnowati

Abstract

Bali is renowned as a tourist island rich in local wisdom, one of which is the traditional herbal remedy loloh cemcem from Penglipuran Village, Bangli Regency. This herbal drink has long been used to maintain health and alleviate internal heat. However, the loloh cemcem products produced by the local community still fall short of the standards for quality traditional medicine preparations, particularly in terms of product quality, packaging, and labeling. Through a community service initiative, activities such as observation, education, training, and mentoring were conducted for local entrepreneurs, focusing on proper selection of raw materials, hygienic production processes, safe packaging practices, accurate labeling of composition, and the implementation of Standard Operating Procedures (SOPs). The training, attended by more than 20 participants from MSMEs and youth organizations (karang taruna), aimed to enhance public understanding of the benefits and importance of high-quality herbal products. It is hoped that loloh cemcem can evolve into a safe, high-quality, efficacious, and competitive traditional beverage. Furthermore, product innovation may serve as an alternative strategy for developing loloh cemcem preparations and expanding their recognition among the wider public.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Wahyuni, T. S., Widyowati, R., Purwitasari, N., Widyawaruyanti, A., Fuad, A., Poerwono, H., Isadiartuti, D., Sulistyowaty, M. I., Yusuf, H., Rudyanto, M., Kusumawati, I., Widiandani, T., & Retnowati, D. (2026). Pelatihan Peningkatan Kualitas Produk Ramuan Tradisional Kabupaten Bangli, Bali: Training for Improving the Quality of Traditional Herbal Products in Bangli Regency, Bali. PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat, 11(2), 666–674. https://doi.org/10.33084/pengabdianmu.v11i2.11081
Section
Articles

References

Aryasa, I. W. T., Artini, N. P. R., & Juliari, P. G. A. E. (2021). Uji nilai gizi dan kapasitas antioksidan pada loloh tanaman cem-cem (Spondias pinnata (L.f.) Kurz.) daerah Desa Bebalang, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali. Jurnal Ilmiah Berkala Sains dan Terapan Kimia, 15(2), 133. https://doi.org/10.20527/jstk.v15i2.10345

Bake, J. (2023). Analisis implementasi standar operasional prosedur layanan administrasi kepegawaian pada Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kota Kendari. Publica: Jurnal Administrasi Pembangunan dan Kebijakan Publik, 14(1), 56–63.

Bekti, H. S., Dharmawati, I. G. A. A., & Habibah, N. (2022). Uji ekstrak daun cemcem dalam menghambat pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis. JST (Jurnal Sains dan Teknologi), 11(2), 267–273. https://doi.org/10.23887/jstundiksha.v11i2.49457

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2005). Peraturan No. HK.00.05.4.1380 tentang pedoman cara pembuatan obat tradisional yang baik.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Bali. (2020). Sekilas Bali – sistem informasi wilayah dan tata ruang Bali. https://tarubali.baliprov.go.id/sekilas-bali

Elfahmi, Woerdenbag, H. J., & Kayser, O. (2014). Jamu: Indonesian traditional herbal medicine towards rational phytopharmacological use. Journal of Herbal Medicine, 4(2), 51–73. https://doi.org/10.1016/j.hermed.2014.01.002

Hendriyani, I. G. A. D., & Massenga, L. M. (2019). Persepsi wisatawan terhadap minuman tradisional Bali sebagai signature drink: Studi pada loloh cemcem di Desa Wisata Penglipuran, Bali. Jurnal Gastronomi Indonesia, 7(1), 76–86. https://doi.org/10.52352/jgi.v7i1.390

Karlina, C. Y., Ibrahim, M., & Trimulyono, J. (2013). Aktivitas antibakteri ekstrak herba krokot (Portulaca oleracea L.) terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. LenteraBio, 2(1), 87–93.

Manoy, F., & Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. (2009). Binahong (Anredera cordifolia) sebagai obat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.

Pebiana, N., Puspasari, Y., Dewi, R., & Arnyana, I. B. P. (2021). Kajian etnobotani loloh dan teh herbal lokal sebagai penunjang ekonomi kreatif masyarakat Desa Tradisional Penglipuran Kabupaten Bangli, Bali. Bioma: Berkala Ilmiah Biologi, 23(2), 91–99. https://doi.org/10.14710/bioma.23.2.91-99

Putri, N. P. A. M. K., Suryaningsih, N. P. A., & Reganata, G. P. (2023). Gambaran perilaku pemanfaatan loloh cemcem sebagai obat herbal di Desa Penglipuran. Journal Scientific of Mandalika (JSM), 4(8), 113–120. https://doi.org/10.36312/vol4iss8pp113-120

Subroto, A., & Saputro, H. (2006). Gempur penyakit dengan sarang semut. Swadaya.

Wahyuni, T. S., Widyowati, R., & Purwitasari, N. (2024). Edukasi tanaman obat dan pembuatan produk herbal pada generasi milenial. Kreanova, 4(1), 21–25.

Wulan, K. W. (2020). Pentingnya personal hygiene dalam mewujudkan keamanan pangan. Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada.

Yuliastuti, I. A. N., Lestari, I. G. A. A. I., & Purnawati, N. L. G. P. (2018). Peningkatan pendapatan kerupuk Citra melalui peningkatan kuantitas dan kualitas produksi. Jurnal Bakti Saraswati (JBS), 7(1).

Most read articles by the same author(s)