Penggunaan Tanaman Sebagai Obat pada Masyarakat Banjarmasin Tengah The Use of Plants as Medicine Among the Community of Central Banjarmasin
Main Article Content
Abstract
Latar Belakang: Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dengan sekitar 30.000 spesies tumbuhan, di mana ±9.600 di antaranya berkhasiat obat dan ±300 spesies sebagai bahan baku jamu dan obat tradisional. Masyarakat Banjarmasin, khususnya Kecamatan Banjarmasin Tengah, memanfaatkan tanaman obat tradisional sebagai pengobatan dan pemeliharaan Kesehatan. Tujuan: Mengetahui jenis tanaman obat, bagian yang digunakan, cara pengolahan dan pemanfaatan tanaman obat. Metode: Penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling terhadap 28 responden. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara terstruktur, dan dokumentasi. Analisis secara deskriptif menggambarkan pola pemanfaatan tanaman obat. Hasil: Ada 24 jenis tanaman obat yang digunakan masyarakat. Bagian tanaman yang paling banyak dimanfaatkan adalah daun (54,2%). Penyakit paling banyak diobati hipertensi (40%), tanaman yang digunakan yaitu sirsak (12,5%). Cara pengolahan dominan adalah direbus (87,5%), dan cara penggunaan terbanyak adalah diminum (87,5%). Simpulan: Masyarakat Banjarmasin Tengah masih mempertahankan tradisi pengobatan dengan tanaman obat sebagai bagian dari kearifan lokal. Hasil ini penting sebagai dasar pengembangan penelitian etnomedisin dan pelestarian tanaman obat untuk menunjang kesehatan masyarakat.
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
All rights reserved. This publication may be reproduced, stored in a retrieval system, or transmitted in any form or by any means, electronic, mechanical, photocopying, recording.
References
Amir & Soendjoto, M. A., 2018. Tumbuhan Yang Dimanfaatkan Sebagai Obat Oleh Masyarakat Dayak Bakumpai Yang Tinggal Di Tepian Sungai Karau, Desa Muara Plantau, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Lingkungna Lahan Basah, Volume III, pp. 127- 132.
Anderson dan Foster, 1986, Antropologi Kesehatan (terjemahan), Jakarta: UI- Press
Bhasin, V. 2007. Medical Anthropology: a review. Ethno.Med. 1(1): 1-20
Daval, N. 2009. Consevation and Cultivation of Ethnomedicinal Plants in Jharkhand. Dalam: Trivedi, P.C. Medicinal plants utilisation and conservation. Aavishkar Publishers Distributor, Jaipur. India: 130- 136.
Elmy, M. and Winarso, H. P. 2019. Kepedulian Orang Tua dalam Menanamkan Karakter Peduli Lingkungan (Studi terhadap Warga di Bantaran Sungai Kuin Kota Banjarmasin. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan: 9(2), p. 51. doi:10.20527/kewarganegaraan.v9i2.7553.
Fakhriadi, R., Khairiyaty, L. and Selamat, S. 2018. Analisis Perbedaan Faktor Risiko Kejadian Diare Antara Daerah Bantaran Sungai Dan Daerah Daratan Di Kabupaten Banjar. Jurnal Berkala Kesehatan, 3(2), p. 67. doi:10.20527/jbk.v3i2.5071.
Fauziah, E. S. and Sasyar’i, U. 2022. Pemberian Rebusan Daun Salam Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Tn.J Dengan Hipertensi. Healthcare Nursing Journal, 4(2b), pp. 84–90.
Gaja, M. R. 2019. Studi kinetika ekstrak daun jambu biji sebagai obat penyembuh diare. pp. 1–30.
Handayani, F. and Paneo, I. 2021. Pengaruh kayu manis terhadap penurunan tekanan darah pasien hipertensi di puskesmas talaga jaya. Jurnal Zaitun, 2(2), pp. 1–6. Available at: file:///C:/Users/user/Downloads/1270- 3488-1-SM.pdf.
Handayani, I. and Wahyuni, S. 2021. Efektivitas Daun Seledri terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Pembantu Berngam Kota Binjai Tahun 2021. Jurnal Riset Hesti Medan Akper Kesdam I/BB Medan, 6(2), p. 112. doi:10.34008/jurhesti.v6i2.241.
Heinrich, M., Williamson, E. M., Gibbons, S., Barnes, J., & Prieto-Garcia, J. 2014. Farmakognosi dan Fitoterapi. EGC.
Indriany, N. and Trismiyana, E. 2021. Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif Dengan Menggunakan Larutan Jeruk Nipis dan Madu Di Kelurahan Sukabumi Bandar Lampung’, 4, pp. 1202–1208.
Jayanti, N. D. 2015. Penggunaan Andrographis Paniculata Ness Untukmenurunkan Hipertensi Pada Wanita Menopaus. Jurnal Ilmiah Kesehatan Media Husada, 4(1), pp. 19–24. doi:10.33475/jikmh.v4i1.163.
Kartawinata, K. 2010. Dua Abad Mengungkap Kekayaan Flora dan Ekosistem Indonesia. Dalam: Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture X. LIPI. 23 Agustus 2010. Jakarta
Kementerian Kesehatan RI. 2015. Laporan Nasional Eksplorasi Pengetahuan Lokal Etnomedisin dan Tumbuhan Obat Berbasis Komunitas di Indonesia.
Mc Clatchey, W. C., Mahady, G. B., Bennett, B. C., Shiels, L., & Savo, V. 2009. Ethnobotany as a pharmacological research tool and recent developments in CNS-active natural products from ethnobotanical sources. Pharmacology & therapeutics, 123(2), 239-254.
Melviani, M., Rohama, R., & Noval, N. 2022. Penggunaan Tanaman Sebagai Obat pada Masyarakatan Suku Banjar, Dayak, dan Bugis di Kalimantan Selatan: The Use of Plants as Medicine in the People of Banjar, Dayak, and Bugis Tribes in South Kalimantan. Jurnal Surya Medika (JSM), 8(2), 171-177.
Nurrahmanto, F. 2021. Pengaruh rebusan daun pegagan terhadap tekanan darah lansia di Tersan Gede Salam Kabupaten Magelang’, Borobudur Nursing Review, 01(02), pp. 56–66.
Pazry, M., Busman, H. and Nurcahyani, N. 2017. Wound Healing Potential of an Ethanolic Extract of Bitter Melon Leaves (Momordica charantia L.) to Heal Back Injury on Male Mice (Mus musculus L.). Jurnal Penelitian Pertanian, 17(2), pp. 109-116.
Purwanto, Y. 2002. Studi etnomedisinal dan fitofarmakope tradisional Indonesia. Prosiding Seminar Nasional II Tumbuhan Obat dan Aromatik. LIPI. Bogor: 96- 109.
Rosita, Rostiana, Pribadi, Hernani. 2007. Penggalian IPTEK etnomedisin di Gunung Gede Pangrango. Bul. Littro, 18(1):13-28
Silalahi, M, Nisyawati, Walujo EB & Supriatna J. 2015. Local Knowledge of Medicinal Plants in Subethnic Batak Simalungun of North Sumatra, Indonesia. Biodiversitas.16(1): 44-54
Silalahi, M. 2016. Penelitiannya. Studi Etnomedisin Di Indonesia Dan Pendekatan Penelitiannya, 9, 117–124
Sujarwo, W., Keim, A.P., Savo, V., Guarrera, P.M., & Caneva, G. 2015. Ethnobotanical Study of Loloh: Traditional Herbal Drinks From Bali (Indonesia). Journal Ethnopharmacology, 169, 34-48
Suryadarma, I. G. P. 2005. Analisis Usada Taru Pramana sebagai penguatan pengetahuan masyarakat Bali di Kabupaten Tabanan. [Disertasi Tidak Dipublikasikan]. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Walujo, E. B. 2009. Etnobotani:Memfasilitasi Penghayatan, Pemutakhiran Pengetahuan dan Kearifan Lokal dengan Menggunakan Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Pengetahuan. Prosiding Seminar Etnobotani IV Cibinong Science Center-LIPI:12-20
Walujo, E. B. 2013. Etnofarmakologi, Saintifikasi Pengetahuan Untuk Pengembangan Industri Kimia Obat dan Farmasi di Indonesia. Makalah Disampaikan pada Lustrum Dan Wisuda Sarjana Ke 5 Tahun 2013 di Depan Civitas Academika Sekolah Tinggi, 1-9