SIMBOL BUDAYA MASYARAKAT DAYAK NGAJU DI MUSEUM BALANGA PALANGKA RAYA
Main Article Content
Abstract
Penduduk asli Kalimantan Tengah adalah suku Dayak Ngaju. Masyarakat Dayak Ngaju kaya akan budaya dan adat istiadat. Namun, selama ini budaya dan adat istiadat yang dimiliki oleh masyarakat Dayak Ngaju hanya disampaikan dari mulut ke mulut sehingga masyarakat Dayak Ngaju tidak memiliki bentuk budaya dalam bentuk publikasi. Simbol merupakan bentuk cerminan budaya suku Dayak Ngaju yang dapat dilihat dari benda-benda yang mengandung makna dan fungsi berdasarkan kepercayaan budayanya. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan metode penelitian menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik rekaman, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 4 benda yang mengandung simbol budaya, yaitu benda (a) uang logam, (b) balanga (guci), (c) pasu, dan (d) mihing.
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors continue to retain the copyright to the article if the article is published in the Jurnal Hadratul Madaniyah. They will also retain the publishing rights to the article without any restrictions.
Authors who publish in this journal agree to the following terms:
- Any article on the copyright is retained by the author(s).
- The author grants the journal the right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share work with an acknowledgment of the work authors and initial publications in this journal.
- Authors can enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of published articles (e.g., post-institutional repository) or publish them in a book, with acknowledgment of their initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their websites) before and during submission. This can lead to productive exchanges and earlier and greater citations of published work.
- The article and any associated published material are distributed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
References
Asmito. 1988. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jakarta: PLPTK Depdikbut.
Daeng, Hans J. 2000. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan: Tinjauan Antropologis. Yogyakarta: Pustaka pelajar.
Danesi, Marcel. 2004. Pesan, Tanda dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.
Dharmojo. 2005. Simbol dalam Pertunjukan Munaba Waropen Papua. Malang: Universitas Negeri Malang.
Dillistone, F.W. 2002. Daya Kekuatan Simbol: The Power of Simbolis. Yogyakarta: Kanisius.
Harysakti, A., dan Mulyadi, L. 2014. Penelusuran Genius Loci Pada Permukiman Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Spectra, 12 (24).
Lastaria., Muhammad Tri Ramdhani, dan Indah T.H. 2018. Makna dan Fungsi Simbol Biologika Menurut Budaya Masyarakat Dayak Ngaju di Museum Balanga Palangka Raya. Anterior Jurnal, 1 (18), 64-70.
Sobur, Alex. 2004. Simiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Saifudin, A.F. 2005. Antropologi Kontemporer (Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Tjilik Riwut, 1979. Maneser Panatau Tatu Hiang. Yogyakarta: Pusaka Lima.
Usop, L. S. (2020). Peran Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Ngaju untuk Melestarikan Pahewan (Hutan suci) di Kalimantan Tengah. Enggang: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya, 1 (1), 89-95.
Wellek, Rene & Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan, terjemahan Muliani Budianta. Jakarta: PT.Gramedia.